Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Defenisi Politik Menurut Para Ahli

Rikaariyani.com-Defenisi Politik Menurut Para Ahli- Pembicaraan mengenai pendidikan memang tidak akan pernah habisnya. Sejak sebelum merdeka hingga saat ini persoalan pendidikan masih tetap menarik untuk dibahas karena pendidikan adalah masa depan bangsa. Keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan pendidikan adalah salah satu cara untuk memperoleh sumber daya manusia yang handal.

Berbicara pendidikan juga berbicara tentang politik pemerintah karena kebijakan-kebijakan pendidikan dirumuskan dan dilaksanakan oleh politik pemerintah. Begitu pun dengan model pendidikan, arah dan tujuannya ditentukan oleh politik yang ditentukan oleh pemerintah.

Dapat dikatakan bahwa politik dalam pelaksanaannya di pemerintah menghasilkan kebijakan-kebijakan yang selanjutnya memberikan pengaruh terhadap segala aspek yang ada di suatu bangsa itu sendiri. Lalu apa yang dimaksud dengan politik? Simak artikel berikut ini:

Defenisi Politik Menurut Para Ahli

Defenisi Politik Menurut Para Ahli

Bagaimana Defenisi Politik Menurut Para Ahli?

1. Miriam Budiarjo

Menurut Miriam Budiarjo (2008), Politik (politics) adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha menggapai the good life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan antara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem politik itu dan hal ini menyangkut pilihan antara beberapa alternatif serta urutan prioritas dari tujuan-tujuan yang telah ditentukan itu.

Baca juga: Potret hasil politik

2. Ramlan Surbakti

Menurut Ramlan Surbakti ( 1992) politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu”.

3. F. Isjwara

Mnurut F. Isjwara (1999) politik ialah salah satu perjuangan untuk  memperoleh kekuasaan atau sebagai tekhnik menjalankan kekuasaan-kekuasaan.” 

4. Kartini Kartono

Menurut Kartini Kartono (1996) politik dapat diartikan sebagai  aktivitas perilaku atau proses yang menggunakan kekuasaan untuk menegakkan peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan yang sah berlaku di tengah masyarakat.

Beberapa Pandangan Mengenai Arti Politik

Terdapat lima pandangan mengenai arti politik yakni sebagai berikut:

1. Pandangan klasik

Aristoteles melihat politik sebagai suatu asosiasi warga negara yang berfungsi membicarakan dan menyelenggarakan hal ikhwal yang menyangkut kebaikan bersama selutuh anggota masyarakat. Pada pandangan klasik, dasar moral tertinggi terdapat pada urusan-urusan yang menyangkut kebaikan bersama daripada urusan-urusan yang menyangkut kepentingan swasta.

2. Pandangan Institusional atau kelembagaan

Pandangan Institusional atau kelembagaan melihat politik sebagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan Negara. Dalam hal ini, Max Weber merumuskan politik sebagai persaingan untuk membagi kekuasaan atau persaingan untuk mempengaruhi pembagian kekuasaan atau persaiangan untuk mempengaruhi pembagian kekuasaan antarnegara maupun antarkelompok di dalam suatu negara.

3. Pandangan kekuasaan

Pandangan kekuasaan melihat politik sebagai kegiatan mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Pandangan ini biasanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang kotor. Hal tersebut karena di dalam mencari dan mempertahankan kekuasaan digunakan juga tindakan yang ilegal dan amoral.

4. Pandangan Fungsionalisme

Pandangan fungsionalisme memandang politik sebagai kegiatan merumuskan dan melaksanakan kebijakan umum.  David Easton merumuskannya sebagai the authoritative allocation of values for a society, atau alokasi nilai-nilai otoritatif, berdasarkan kewenangan, dan karena itu mengikat untuk suatu masyarakat.   

Easton kemudian menggolongkan perilaku politik berupa kegiatan yang mempengaruhi (mendukung, mengubah, menentang) proses pembagian dan penjatahan nilai-nilai dalam masyarakat. Sedangkan Harorld Laswell memandang proses politik sebagai masalah who gets what, when, how, atau masalah siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Mendapat apa artinya mendapat nilai-nilai. Kapan berarti ukuran pengaruh yang digunakan untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan nilai terbanyak.

5. Pandangan Konflik 

Pandangan konflik memandang politik sebagai upaya untuk mendapatkan dan/atau mempertahankan nilai-nilai. Perebutan dalam upaya mendapatkan dan/mempertahankan nilai-nilai disebut konflik. Maka dari itu politik pada dasarnya adalah konflik. Pandangan ini mendasarkan bahwa konflik adalah gejala yang melekat dalam setiap proses politik.

Dari berbagai pengertian tentang politik di atas, dapat penulis  simpulkan bahwa politik merupakan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa terhadap warga negara yang ditujukan untuk mempengaruhi (mendukung, mengubah, menentang) suatu kebijakan negara/publik.

Demikian pembahasan mengenai defenisi politik, semoga bermanfaat.

Baca juga: Makalah pengertian politik dan kebijakan pendidikan


Post a Comment for "Defenisi Politik Menurut Para Ahli"