Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MEMUPUK RASA NASIONALISME DARI FILM G30S PKI

Rikaariyani.com- MEMUPUK RASA NASIONALISME MELALUI FILM G30S PKI- Jujur, menyaksikan film G30S/PKI yang ditayangkan di gedung Pascasarjana UIN STS Jambi membuat perasaan mengharu biru, khususnya bagi saya secara pribadi. Film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer adalah fakta sejarah kelam bangsa Indonesia. 

Pemutaran film ini dapat menjadi pembelajaran dan perenungan bagi bangsa Indonesia atas kekejaman PKI (Partai Komunis Indonesia) dan betapa besar pengorbanan para pahlawan Indonesia. Mereka mengorbankan harta, benda, tenaga, keluarga, waktu, bahkan nyawa. Mereka disakiti, dianiaya, tetapi mereka sama sekali tidak gentar. Mereka tidak takut mati.

Bagi saya, film pengkhianatan G30S-PKI sebagai film dokumenter ini perlu ditonton oleh semua kalangan masyarakat, terlebih bagi para generasi muda Indonesia. Film ini sudah memiliki izin tayang dari LSF (Lembaga sensor Film) dan tayangnya film ini untuk memberikan pemahaman sejarah kepada bangsa Indonesia. Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno dalam sebuah pidato yang dikenal dengan pidato jas merah yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah.

rasa nasionalisme

 

Menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto, pemutaran film G30S-PKI bukan untuk mendiskreditkan siapa yang salah dan bukan untuk menumbuhkan dendam, tetapi memberikan gambaran jangan sampai peristiwa yang pahit dan hitam tersebut terjadi lagi. 

Sedangkan menurut Zainut Politikus Partai Persatuan Pembangunan, film G30S-PKI sekaligus untuk menanamkan nilai-nilai Nasionalisme dan Patriotisme kepada generasi muda.  Karena tak dapat dipungkiri rasa dan semangat Nasionalisme pada sebagian masyarakat Indonesia khususnya generasi muda mulai terkikis seiring perkembangan zaman.

Baca Juga: Manajemen Pendidikan di Amerika Serikat

Para generasi muda lebih mencintai budaya luar daripada budaya mereka sendiri. Mereka tampak lebih bangga meniru budaya barat dan merasa kuno dengan budaya mereka sendiri. Hal ini tentu saja membuat ketahanan Nasional menjadi lemah dan mudah ditembus oleh pihak luar.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997: 648), Nasionalisme didefenisikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu, yakni semangat kebangsaan.

Sedangkan Menurut Wikipedia, Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. 

Secara politis nasionalisme merupakan kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan, menghilangkan penjajahan, maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya dan lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Rasa nasionalisme merupakan sesuatu yang urgent dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rasa dan semangat Nasionalisme adalah wujud kecintaan kita terhadap bangsa dan negara. 

Menurut Sartono Kartodirdjo (1999:13), ada lima prinsip dalam Nasionalisme, di mana yang satu dengan yang lainnya saling terkait untuk membentuk wawasan Nasional. Kelima prinsip tersebut adalah: menjamin kesatuan (unity) dan persatuan bangsa, menjamin kebebasan (liberty) individu ataupun kelompok, menjamin adanya kesamaan (equality) bagi setiap individu, menjamin terwujudnya kepribadian (personality), dan prestasi (performance) atau keunggulan bagi masa depan bangsa.

Menurut Hutauruk (1984) unsur-unsur terpenting dalam Nasionalisme yaitu: 

  1. Kesetiaan mutlak, kesetiaan tertinggi individu itu adalah pada nusa dan bangsa 
  2. Kesadaran akan suatu panggilan 
  3. Keyakinan akan suatu tugas dan tujuan yang harus dikejar 
  4. Harapan akan tercapainya sesuatu yang membahagiakan 
  5. Hak hidup, hak merdeka dan hak atas harta benda yang berhasil dikumpulkan dengan jalan halal 
  6. Kepribadian kolektif yang mengandung perasaan mesra sekeluarga, nasib serta tanggung jawab yang sama; persaudaraan dan kesetiaan di antara manusia itu 
  7. Jiwa rakyat (Volksgeist) yang dapat diselami dalam tradisi, bahasa, cerita dan nyanyian rakyat 
  8. Toleransi yang sebesar-besarnya terhadap satu sama lain.

Pudarnya rasa dan semangat Nasionalisme pada generasi muda dipengaruhi oleh beberapa faktor, pertama: faktor globalisasi. Para generasi muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, kedua: tidak adanya rasa memiliki atas negara, ketiga: tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap negara.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme pada generasi muda adalah

  1. Membekali genberasi muda dengan ideologi dan falsafah hidup bangsa indonesia yaitu dengan menanamkan nilai-nilai pancasila
  2. Melakukan nafak tilas sejarah yang menjadi simbol perjuangan para pejuang bangsa. Tayangan film dokumenter G30S/PKI termasuk salah satu cara mempelajari sejarah
  3. Memperkenalkan berbagai budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

 Semoga bermanfaat...

 Baca juga: Profil Pondok Pesantren Al-Baqiyatush Shalihat

 




Post a Comment for "MEMUPUK RASA NASIONALISME DARI FILM G30S PKI"