Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ebook Manajemen Kelas Gratis


Rikaariyani.com- E-Book Manajemen Kelas Gratis- Buat kamu para mahasiswa, Bapak dan Ibu Dosen, Bapak dan Ibu guru, yang butuh e-Book ini, silahkan download. E-book ini saya bagikan secara gratiss. Semoga bermanfaat. 

 

MANAJEMEN KELAS

 

E-Book Manajemen Kelas Gratis
Ebook Manajemen Kelas


 
 A. PENDAHULUAN

Salah satu hal yang tidak bisa diabaikan dalam manajemen peserta didik adalah manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan aspek pendidikan yang sering dijadikan perhatian utama oleh para calon guru, guru baru, dan bahkan guru yang telah berpengalaman, karena calon guru, guru baru, dan guru yang telah berpengalaman berkeinginan agar para peserta didik dapat belajar dengan optimal. Dalam artian, guru mampu menyampaikan bahan pelajaran dan dapat diterima oleh peserta didik dengan baik. Guru yang professional salah satu cirinya adalah guru yang mampu mengelola kelas dengan baik.

Penciptaan kelas yang nyaman merupakan kajian dari manajemen kelas. Sebab manajemen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upayanya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan baik.

Di dalam kelas, segala aspek pembelajaran berproses, guru dengan segala kemampuannya yang dimilikinya, murid dengan segala latar belakang dan potensi dimilikinya. Manajemen kelas diperlukan karena dari hari ke hari, bahkan  dari  waktu  ke  waktu tingkah laku dan perbuatan peserta didik selalu berubah. Hari  ini  peserta  didik  dapat   belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya di masa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku,  perbuatan,  sikap,  mental,  dan emosional siswa.

 
B. PENGERTIAN MANAJEMEN KELAS

Manajemen kelas merupakan gabungan dari kata manajemen dan kelas. Manajemen yaitu suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan/pengevaluasian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan kelas adalah ruangan belajar atau rombongan belajar.

Kelas dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2007:545) diartikan sebagai ruang tempat belajar di sekolah. Pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Kelas dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Nawawi memandang kelas dari dua sudut:

1. Kelas Dalam Arti Sempit

Kelas dalam arti sempit yaitu sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.

2. Kelas Dalam Arti Luas

Kelas dalam arti luas yaitu suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

Menurut Abdurahman (1994: 42), kelas meliputi berbagai komponen, antara lain: ruangan, siswa, kegiatan pembelajaran,  alat  dan   media pembelajaran, serta segala hal yang berkenaan dengan suasana lingkungan.

Manajemen kelas dipandang dari komponen- komponennya dapat dikelompokkan menjadi pengelolaan kelas yang menyangkut siswa dan pengelolaan kelas yang menyangkut non-siswa (alat peraga, ruangan, lingkungan kelas).

Manajemen kelas merupakan tingkah laku kompleks yang digunakan oleh guru untuk memelihara suasana sehingga pembelajaran berjalan dengan optimal untuk mengembangkan potensi murid. Menurut Hamalik “kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru”. 

Sedangkan Sulaeman (2009) mengartikan bahwa kelas dalam arti umum menunjukkan kepada pengertian sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan dari guru yang sama pula. Kelas dalam arti luas merupakan bagian dari masyarakat kecil yang sebagian adalah suatu masyarakat sekolah yang sebagian suatu kesatuan di organisasi menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan- kegiatan.

Menurut Hamiseno (2009), kelas adalah ruangan yang digunakan untuk proses belajar mengajar yang efektif dan menguntungkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan.

Kelas merupakan taman belajar bagi siswa. Kelas adalah tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembangnya potensi intelektual dan emosional. Mengingat urgensi kelas, hendaknya kelas harus dimanajemen sedemikian rupa sehingga benar-benar merupakan tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Syarat-syarat kelas yang baik, yakni:

  1. Rapi, bersih, sehat, tidak lembab 
  2. Cukup cahaya yang meneranginya 
  3. Sirkulasi udara cukup 
  4. Perabot dalam keadaan baik, cukup jumlah dan ditata dengan rapi 
  5. Jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang.

Dapat disimpulkan bahwa terdapat dua pengertian kelas, yaitu sebuah ruangan yang disediakan untuk belajar, dan dapat pula diartikan sebagai kelompok belajar pada mata pelajaran yang sama dan guru yang sama.

Selanjutnya, penulis kemukakan tentang pengertian manajemen kelas.

Manajemen kelas dikenal juga dengan pengelolaan kelas. Masing-masing guru harus mampu mengelola kelas dengan baik. Tanpa pengelolaan kelas yang baik dan efektif, proses belajar mengajar akan menjadi kacau sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai materi atau bahan pelajaran saja, tetapi juga harus mampu menguasai kelas.

Manajemen kelas yaitu keterampilan yang dimiliki guru dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif sehingga peserta didik dapat belajar dengan baik dan tenang sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien. 

Pengertian manajemen kelas menurut Weber W. A. (1988) adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan serta memotivasi murid agar dapat belajar dengan baik. Arikunto, (2006) mendefinisikan manajemen kelas sebagai suatu usaha yang dilakukan penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar tercapai kondisi belajar yang optimal, sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.

Sedangkan Mulyasa (2006) mendefinisikan manajemen kelas sebagai keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.”

Selain definisi di atas, ada lima defenisi manajemen kelas menurut informasi Pendidikan Nasional yaitu sebagai berikut:

1. Pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif

Pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif yakni seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin sangat diutamakan.

2. Pengelolan kelas yang bersifat permisif

Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah.

3.Pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip- prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification)

Behavioral modification yaitu seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement).

4. Pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas

Pandangan ini mempunyai anggapan dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Peranan guru ialah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dengan demikian, pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio- emosional kelas yang positif.

5. Pengelolaan kelas yang bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya.

Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. Dengan demikian, pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan memertahankan organisasi kelas yang efektif (Depdikbud, 1982).

Manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada persiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan, waktu, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai.

Menurut Made Pidarta (dalam Djamarah, 2005:172) “Manajemen kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas”. Guru bertugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem atau organisasi kelas, sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuannya, bakat, dan energinya pada tugas- tugas individual.

Jadi, manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis yang mengarah pada penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, serta mewujudkan situasi dan kondisi proses belajar mengajar sehingga dapat berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

 
C. TUJUAN MANAJEMEN KELAS

Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Tujuan adalah titik akhir dari sebuah kegiatan dan dari tujuan itu juga sebagai pangkal tolak pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Keberhasilan sebuah tujuan dapat dilihat dari efektivitas dalam pencapaian tujuan itu serta tingkat efisiensi dan penggunaan berbagai sumber daya yang dimiliki.

Dalam proses manajemen kelas, keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapai. Oleh karena itu, guru harus menetapkan tujuan apa yang hendak dicapai dengan kegiatan manajemen kelas yang dilakukannya.

Suharsimi Arikunto (2004), berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Selengkapnya Arikunto menguraikan rincian tujuan manajemen kelas berikut ini :

  1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. 
  2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran. 
  3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelek siswa dalam belajar. 
  4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat- sifat individunya (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996).

John W. Santrock (2004) berpendapat bahwa manajemen kelas yang efektif bertujuan untuk membantu menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan pembelajaran dan mencegah siswa mengalami problem akademik dan emosional. Kelas yang dikelola dengan baik tidak hanya akan meningkatkan pembelajaran yang berarti, tetapi juga membantu mencegah berkembangnya problem emosional dan akademik. Kelas yang dikelola dengan baik akan membuat siswa sibuk dengan tugas yang menantang dan akan membuat siswa termotivasi belajar, mamahami aturan, dan regulasi yang harus dipatuhi.

Dalam kelas yang demikian itu, kecil kemungkinan siswa mengalami masalah emosional dan akademik. Sebaliknya kelas yang dikelola dengan buruk, problem emosional dan akademik akan menjadi makin tidak termotivasi. Siswa yang pemalu akan menjadi reklusif dan siswa yang bandel akan makin kurang ajar.

Sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:

  1. Setiap anak terus bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu akan tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya. 
  2. Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun tahu dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib.

Jadi, secara keseluruhan tujuan manajemen kelas adalah sebagai berikut:

  1. Agar tercipta situasi dan kondisi kelas yang nyaman. 
  2. Agar peserta didik dapat leluasa mengembangkan kemampuan mereka secara maksimal. 
  3. Tersedia fasilitas belajar yang mendukung proses belajar mengajar. 
  4. Memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan tenang sehingga terwujud proses belajar mengajar yang efektif. 
  5. Mengurangi berbagai hambatan yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar. 
  6. Terwujudnya interaksi belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan intelektual peserta didik. 
  7. Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

 
D. FUNGSI MANAJEMEN KELAS

Selain memberikan arti penting bagi tercipta dan terpeliharanya suasana dan kondisi kelas yang optimal, manajemen kelas juga berfungsi:

  1. Melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti; membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menemukan tujuan- tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerjasama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, dan merubah kondisi kelas. 
  2. Untuk memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan dengan lancar. 
  3. Untuk menghindari masalah-masalah yang terjadi di kelas. Biasanya masalah yang terjadi di kelas dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok.

Menurut J. M Cooper (1977), fungsi manajemen kelas sebagai berikut:

  1. Sebagai proses untuk mengendalikan atau mengontrol prilaku siswa di dalam kelas. 
  2. Sebagai upaya menciptakan kebebasan bagi diri siswa. 
  3. Sebagai proses pemodifikasian perilaku peserta didik. 
  4. Sebagai proses menciptakan sosio-emosioanal yang positif dalam kelas. 
  5. Upaya pemberdayaan (empowering) sebuah sistem sosial atau proses kelompok sebagai intinya.

Dengan demikian, fungsi manajemen kelas adalah sebagai upaya dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

 

E. RUANG LINGKUP MANAJEMEN KELAS

1. Manajemen Kurikulum

Kurikulum adalah suatu cakupan kerja yang digunakan oleh seorang guru sebagai pedoman yang akan dicapai di dalam proses belajar mengajar. Sedangkan manajemen kurikulum adalah sebuah perencanaan atau pengarahan untuk menyelesaikan kurikulum tersebut.

2. Manajemen Peserta Didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia baik dari jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian, manajemen peserta didik adalah suatu proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara kontinu terhadap seluruh peserta didik (dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan) agar dapat mengikuti PBM dengan efektif dan efesien, UUSPN (2003).

3.Kegiatan Akademik

Kegiatan akademik dikategorikan sebagai kegiatan PBM (proses belajar mengajar/teaching), di antaranya membuat persiapan sebelum mengajar, melaksanakan pengajaran yang telah dipersiapkan, serta menilai sejauh mana pelajaran yang disajikan tersebut berhasil dikuasai peserta didik.

4. Kegiatan Administratif

Kegiatan administratif dikategorikan sebagai kegiatan "non-teaching" yaitu kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan guru demi kelancaran proses belajar mengajar seperti kegiatan-kegiatan prosedural, dan kegiatan organisasional.

Berdasarkan uraian di atas, selanjutnya ruang lingkup manajemen kelas dapat diklasifikasikan menjadi dua:

a. Fisik

Pengelolaan kelas yang memfokuskan pada hal-hal yang bersifat fisik, mencakup pengaturan siswa dalam belajar, ruang belajar, dan perabot kelas.

b. Non fisik

Pengelolaan kelas yang memfokuskan pada aspek interaksi siswa dengan siswa lainnya, siswa dengan guru dan lingkungan kelas atau sekolahnya sebelum, selama, dan setelah pembelajaran. Atas dasar ini, aspek psikologis, sosial, dan hubungan interpersonal perlu diperhatikan.

 
F. PENGATURAN SISWA DALAM MANAJEMEN KELAS

Pengaturan siswa dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Suharsimi Arikunto (1986) membedakan dan meninjau pengaturan siswa atas dua sudut pandangan sehingga ada dua jenis pengelolaan siswa; Pertama, pengelolaan siswa dalam arti sempit, yang selanjutnya disebut pengelolaan atau manajemen kelas. Kedua, pengelolaan siswa dalam arti luas yaitu pengelolaan siswa termasuk juga urusan di luar kegiatan belajar.

Tindakan manajemen kelas yang dilakukan oleh seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangan secepatnya.

Munculnya masalah individu didasarkan pada anggapan dasar bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya mencapai tujuan tertentu yaitu pemenuhan kebutuhan untuk diterima oleh kelompok atau masyarakat dan untuk mencapai harga diri. Lebih lanjut Dreikurs menyatakan bahwa akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut akan terjadi beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti berikut:

  1. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian oranglain. Gejala yang nampak dari tingkah laku ini adalah siswa membadut dikelas atau dengan berbuat serba salah sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra. 
  2. Tingkah laku yang ingin menunjukan kekuatan. Gejalanya adalah siswa selalu mendebat, kehilangan kendali emosional, marah-marah, menangis, atau selalu lupa pada aturan-aturan penting dikelas. 
  3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain. Gejala yang mucul dari tingkah laku ini adalah tindakan menyakiti orang lain seperti mengata- ngatai, memukul, menggigit, dan sebagainya. 
  4. Peragaan ketidakmampuan. Gejalanya adalah dalam bentuk sama sekali tidak mau mencoba melakukan apapun, karena beranggapan bahwa apapun yang dilakukan kegagalanlah yang dialaminya.

Dreikurs dan Cassel (1968) menyarankan adanya penyikapan terhadap tindakan para peserta didik sebagai berikut:

  1. Apabila seorang guru merasa terganggu oleh perbuatan seorang siwa, maka kemungkinan tujuan siswa adalah untuk mendapatkan perhatian. 
  2. Apabila seorang guru merasa dikalahkan atau terancam, maka kemungkinan tujuan siswa yang bersangkutan adalah ingin menunjukan kekuasaan. 
  3. Apabila seorang guru merasa tersinggung atau merasa disakiti, maka kemungkinan tujuan siswa untuk membalas dendam. 
  4. Apabila seorang guru benar-benar merasa tidak mampu berbuat apa-apa dalam menghadapi ulah siswa, maka kemungkinan yang dihadapinya adalah peragaan ketidakmampuan.

Dari empat cara atau tindakan yang dilakukan individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah yaitu:

  1. Pola aktif konstruktif, yaitu pola tingkah laku yang ekstrim ambisius untuk menjadi super star di kelasnya dan mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati. 
  2. Pola aktif destruktif, yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat bayolan, suka marah, kasar, dan memberontak. 
  3. Pola pasif konstruktif, yaitu pola yang menunjuk kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian. 
  4. Pola pasif destruktif, yaitu pola tingkah laku yang menunjuk kemalasan (sifat pemalas) dan keras kepala.

Tindakan-tindakan yang digunakan untuk mengontrol kelas ialah antara lain; a) Hukuman dan ancaman, b) Pengubahan situasi dan pendapat, c) Dominasi atau pengaruh, dan d) Kerja sama atau partisipasi.

G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN KELAS

Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut melekat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non-fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru.

Untuk mewujudkan manajemen kelas yang baik, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain:

1. Kondisi Fisik

Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal, mendukung meningkatnya intensitas belajar dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Kondisi fisik yang dimaksudkan meliputi:

  • Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar 
  • Pengaturan tempat duduk 
  • Ventilasi dan pengaturan cahaya 
  • Pengaturan penyimpanan barang-barang.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penciptaan lingkungan fisik tempat belajar adalah kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktif dalam membuat keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya (Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia: 112).

Perlengkapan sekolah juga menjadi faktor di dalam manajamen kelas. Secara garis besar, ada dua jenis perlengkapan di sekolah, yaitu sarana dan prasarana sekolah. Sarana sekolah adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan prasarana sekolah adalah semua kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah (Ibrahim Bafadal, 2004:24). Dengan sarana dan prasarana yang lengkap akan sangat menunjang dalam keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas.

2. Kondisi Sosio-Emosional

Kondisi sosio-emosional dalam kelas mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional meliputi:

  • Tipe kepimimpinan 
  • Sikap guru 
  • Suara guru 
  • Pembinaan hubungan baik (Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia: 113).

Seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Seorang guru harus mampu mengendalikan emosionalnya. Di kelas, guru berperan sebagai seorang demonstrator, sebagai motivator, sebagai fasilitator, sebagai pengatur kelas, dan juga sebagai evaluator.

3. Kondisi Organisasional

Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Kegiatan rutin yang diatur secara jelas dan dikomunikasikan kepada semua peserta didik, akan membentuk kebiasaan yang baik pada diri peserta didik. Kegiatan rutinitas tersebut antara lain:

  1. Pergantian pengajaran 
  2. Guru berhalangan hadir 
  3. Masalah antar siswa 
  4. Upacara bendera 
  5. Kegiatan lain

4. Faktor Situasi

Situasi  yang dimaksud di sini adalah suasana belajar. Termasuk dalam pengertian ini suasana yang berkaitan dengan peserta didik, seperti; kelelahan dan semangat belajar yang menurun. Begitu pula dengan keadaan cuaca, keadaan guru, keadaan kelas-kelas pengajaran yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu karena penggunaan suatu metode (Ahmad Rohani, 2004:120).

Didalam faktor situasi, iklim kelas juga sangat berpengaruh. Iklim kelas yaitu segala sesuatu yang muncul akibat hubungan guru dan peserta didik dan mempengaruhi proses belajar mengajar.

H. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS

Prinsip manajemen kelas merupakan pegangan atau acuan yang dimiliki sebagai pokok dasar berfikir atau bertindak dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.

Djamarah (2006:185) menyebutkan, “dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam manajemen kelas ada beberapa prinsip yang dapat digunakan. Prinsip-prinsip manajemen kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut:

1. Hangat Dan Antusias

Hangat dan antusias merupakan salah satu prinsip yang diperlukan dalam proses belajar dan mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, antusisme berarti gairah, gelora semangat, atau minat yang tinggi. Antusiasme bersumber dari dalam diri, secara spontan atau melalui pengalaman terlebih dahulu.

2. Tantangan

Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.

3. Bervariasi

Penggunaan media dan metode mengajar yang bervariasi akan meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pelajaran. Begitu juga dengan gaya mengajar, pola interaksi antara guru dan peserta didik akan mengurangi munculnya gangguan dalam proses belajar mengajar. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya manajemen kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.

4. Keluwesan

Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mecegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya.

5. Penekanan Pada Hal-Hal Yang Positif

Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

6. Penanaman Disiplin Diri

Tujuan akhir dari manajemen kelas adalah agar peserta didik dapat mengembangkan disiplin diri. Untuk dapat mewujudkan kedisiplinan tersebut, guru harus menerapkannya terlebih dahulu agar peserta didik dapat mengikutinya.

 

I.Pendekatan-Pendekatan Manajemen Kelas

Pendekatan dalam manajemen kelas yang dipilih guru senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Pendekatan pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu pendekatan manajerial dan pendekatan psikologikal. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pendekatan Manajerial

Pendekatan manajerial merupakan upaya penyelenggaraan pembelajaran dengan menitik beratkan pada upaya guru untuk mengatur dan mengorganisasi peserta didik sesuai dengan persepsi guru terhadap peserta didik, dengan kata lain pendekatan ini dipilih berdasarkan orientasi guru dan ketercapaian target kurikulum yang harus diselesaikan. Pendekatan ini meliputi:

1) Pendekatan Otoriter

Pendekatan ini memandang, bahwa manajemen kelas adalah proses mengendalikan perilaku peserta didik. Dalam pendekatan ini, peranan guru adalah mengembangkan dan memelihara aturan atau disiplin di dalam kelas. Dalam pendekatan ini guru menempatkan peranan menciptakan dan memelihara ketertiban kelas dengan menggunakan strategi pengendalian. Apabila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisiplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan otoriter.

Pendekatan otoriter menawarkan lima strategi yang dapat diterapkan dalam manajemen kelas, yaitu:

  1. Menciptakan dan menegakkan, Yaitu proses mendefinisikan dengan jelas dan spesifik harapan guru mengenai perilaku peserta didik. Maksud peraturan ini adalah menuntun dan membatasi perilaku peserta didik. 
  2. Memberikan perintah, pengarahan, dan pesan, Yaitu strategi guru dalam mengendalikan perilaku peserta didik agar peserta didik melakukan sesuatu yang diinginkan guru. 
  3. Menggunakan teguran ramah, Yaitu strategi yang digunakan guru dengan cara lemah lembut dalam memberikan teguran kepada peserta didik yang berprilaku tidak sesuai atau peserta didik yang melanggar aturan. 
  4. Menggunakan pengendalian dengan mendekati peserta didik, Saat ada peserta didik yang berprilaku menyimpang di kelas, guru harus cepat mendekatinya. Hal ini dilakukan untuk mencegah berkembangnya situasi yang mengacaukan. 
  5. Menggunakan pemisahan dan pengucilan, Strategi ini dapat dilakukan guru dalam merespon perilaku menyimpang peserta didik yang tingkat penyimpangannya cukup berat.

 
2) Pendekatan Intimidasi

Pendekatan ini juga memandang manajemen kelas sebagai proses mengendalikan perilaku peserta didik, hanya saja pada pendekatan ini tampak lebih dilandasi oleh asumsi bahwa perilaku peserta didik paling baik dikendalikan oleh perilaku buruk. Peran guru di sini adalah menggiring peserta didik berperilaku sesuai dengan keinginan guru sehingga mereka merasa takut untuk melanggarnya.

Pendekatan intimidasi adalah penekanan pendekatan yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku peserta didik. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi seperti hukuman yang kasar, ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, serta menyalahkan.

Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah perintah verbal yang diberikan pada situasi tertentu dengan maksud untuk segera menghentikan perilaku peserta didik yang menyimpang. Sekalipun pendekatan intimidasi sudah dipakai secara luas dan ada manfaatnya, tetapi terdapat banyak kecaman terhadap pendekatan ini.

Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan masalah secara sementara dan hanya menangani gejala masalahnya, bukan masalah itu sendiri. Kelemahan yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan antara guru dan peserta didik.

3) Pendekatan Permisif

Pendekatan permisif yaitu pendekatan yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral dari pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan di mana juga guru hendaknya membiarkan peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan membantu pertumbuhan secara wajar. Pendekatan ini bertentangan dengan pendekatan intimidasi. Esensi pendekatan permisif terletak pada peran guru memaksimalkan kebebasan peserta didik, membantu peserta didik merasa bebas melakukan apa yang mereka mau. Jika hal itu tidak dilakukan maka yang terjadi adalah proses menghambat perkembangan peserta didik.

4) Pendekatan Instruksional

Pendekatan ini mengacu pada tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Peranan guru dalam pendekatan ini adalah merencanakan dengan teliti pembelajaran di kelas dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan strategi pendekatan ini adalah:

  • Menyampaikan kurikulum dan pelajaran dengan cara yang menarik, relevan, dan sesuai secara empiris sebagai penangkal perilaku menyimpang siswa di dalam kelas.
  • Menerapkan kegiatan yang efektif sehingga mencegah siswa melalaikan tugasnya. 
  • Menyiapkan kegiatan rutin kelas. 
  • Memberikan pengarahan yang jelas 
  • Memberikan dorongan yang bermakna 
  • Merencanakan perubahan lingkungan, yaitu proses mempersiapkan kelas atau lingkungan dalam menghadapi perubahan-perubahan situasi 
  • Mengatur kembali struktur situasi di kelas, yaitu strategi manajerial kelas dalam memulai suatu kegiatan atau mengerjakan tugas dengan cara yang berbeda.

5) Pendekatan Transaksional

Dalam pendekatan ini, pembelajaran lebih bersifat fleksibel, sebab pembelajaran dikelola bersama guru dan peserta didik dalam bentuk pembagian tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh mereka untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendekatan ini dapat dikatakan sebagai pengembangan konsep belajar siswa aktif. Keaktifan yang dimaksud adalah keaktifan sosial, emosi, dan intelektual peserta didik.

2. Pendekatan Psikologikal

Pendekatan psikologikal lebih menitikberatkan pada pertimbangan bagaimana siswa di kelas dapat dikelola dengan suatu pendekatan tertentu. Menurut Suparno (1998:92) ada tiga pendekatan dalam manajemen kelas, yaitu:

a. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

Pendekatan perubahan tingkah laku diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik. Peranan guru dalam pendekatan ini adalah mengembangkan tingkah laku peserta didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.

Menurut pendekatan ini, tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.

b. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa pengelolaan kelas yang efektif dan pengajaran yang efektif memerlukan hubungan positif antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa. Pendekatan iklim sosio-emosional akan tercapai secara maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas.

Dalam hal ini guru merupakan kunci dalam hubungan tersebut. Oleh karena itu, seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, maka guru harus mempunyai sikap mengerti dan sikap mengayomi serta melindungi.

Prinsip utama komunikasi guru yaitu berbicara pada situasi, bukan pada kepribadian dan karakter siswa. Jika guru dihadapkan pada perilaku siswa yang tidak diinginkan, guru disarankan untuk mendeskripsikan apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya, baru kemudian merefleksikan mengapa siswa berperilaku seperti itu dan memikirkan apa yang perlu diperbuat.

c. Pendekatan Kerja Kelompok

Dalam pendekatan ini, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerjasama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif. Selain itu, guru juga harus mampu menjaga kondisi itu agar tetap baik.

d. Pendekatan Keterlibatan Aktif

Karena belajar merupakan hasil interaksi individu dengan individu, lingkungan, materi, maka proses interaksi hendaknya dapat dikelola sehingga menjadi interaksi yang produktif. Interaksi yang produktif menuntut individu terlibat aktif dalam interaksi tersebut.

Berbagai bentuk kegiatan belajar aktif yang dapat dikembangkan:

  • Kegiatan penyelidikan; membaca, wawancara. 
  • Kegiatan penyajian; laporan, membuat grafik dan chart 
  • Kegiatan latihan mekanis; digunakan jika kelompok menemui kesulitan sehingga perlu diadakan ulangan-ulangan dan latihan-latihan. 
  • Kegiatan apresiasi; seperti mendengarkan musik, dan memperhatikan gambar. 
  • Belajar dalam kelompok; latihan dalam tata kerja demokratis. 
  • Percobaan; belajar cara-cara mengerjakan sesuatu 
  • Kegiatan mengorganisasi dan menilai; mengatur dan menilai pekerjaan yang mereka kerjakan.

 
e. Pendekatan Elektis atau Pluralistik

Pendekatan elektis menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif guru dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Pendekatan elektis disebut juga dengan pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan, selama maksud dan penggunaannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas. Selain pendekatan manajerial dan psikologikal, ada beberapa pendekatan lain, yaitu:

1. Pendekatan Konseling

Dalam pendekatan ini, siswa digiring kesadarannya untuk tumbuh menjadi calon profesional, membangun tanggung jawab atas perilakunya, dan mengembangkan rencana-rencana         untuk mengurangi kecenderungan tindakan-tindakan yang tidak produktif. Guru berusaha mengidentifikasi faktor-faktor penyebab perilaku siswa yang menyimpang, sekaligus mencari jawaban untuk memecahkan masalah tersebut secara konsepsional dan praktis.

2. Pendekatan Penelitian Keefektifan Guru

Fokus utama pendekatan ini terletak pada perilaku efektif guru dalam mengelola perilaku peserta didik, khususnya yang berkaitan dengan:

  • Keterampilan guru dalam mengorganisasikan dan mengelola aktivitas kelas; 
  • Keterampilan guru dalam menyajikan materi belajar; 
  • Hubungan guru-siswa.

3. Pendekatan Kontingensi

Menurut pendekatan ini, tugas guru adalah mengidentifikasi teknik tertentu yang paling cocok diterapkan pada situasi tertentu dalam mencapai tujuan organisasi karena tidak ada satu pun teknik manajemen yang universal yang dapat diterapkan dalam setiap situasi dan kondisi.

J. HAMBATAN-HAMBATAN DALAM MANAJEMEN KELAS

Dalam manajemen kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan tersebut bisa datang dari guru sendiri, peserta didik, lingkungan keluarga, ataupun karena faktor fasilitas. Dari uraian di atas tampaklah bahwa kewenangan penanganan masalah pengelolaan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu:

a. Masalah yang ada dalam wewenang guru

Ada sejumlah masalah dalam manajemen kelas yang ada dalam ruang lingkup wewenang guru untuk mengatasinya. Hal ini berarti bahwa seorang guru yang sedang mengelola proses pembelajaran dituntut untuk dapat menciptakan, memperhatikan dan mengembalikan iklim belajar kepada kondisi belajar mengajar yang menguntungkan, sehingga peserta didik berkesempatan untuk mengambil manfaat yang optimal dari kegiatan belajar yang dilakukan.

b. Masalah yang ada dalam wewenang sekolah sebagai lembaga lembaga pendidikan;

Dalam kenyataan sehari-hari di kelas, akan ditemukan masalah pengelolaan yang lingkup wewenang untuk mengatasinya berada di luar jangkauan guru. Masalah ini harus diatasi oleh kepala sekolah sebagai pimpinan suatu lembaga pendidikan.

c. Masalah yang ada di luar wewenang guru dan sekolah

Dalam mengatasi masalah semacam ini yang harus terlibat adalah orang tua, lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat, para pengusaha, dan lembaga-lembaga pemerintahan setempat.

Selain masalah di atas ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam manajemen kelas;

1. Faktor Guru

Faktor penghambat yang datang dari guru yaitu:

  • Tipe kepemimpinan guru yang otoriter 
  • Format pembelajaran yang tidak bervariasi (monoton) 
  • Kepribadian guru yang tidak baik 
  • Pengetahuan guru yang kurang 
  • Kurangnya pemahaman guru terhadap peserta didik. 
  • Kurangnya kesiapan guru baik secara fisik maupun non-fisik 
  • Kurangnya komunikasi antara guru dan peserta didik. 
  • Guru terlalu banyak kegiatan di luar sekolah untuk mencari tambahan biaya hidup.

 
2. Faktor Peserta Didik

Faktor peserta didik yaitu: kekurangsadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas dalam suatu sekolah. Hal ini tentu menjadi masalah dalam pengelolaan kelas.

3. Faktor Keluarga

Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis.

4. Faktor Fasilitas

Faktor ini meliputi:

  • Jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas. 
  • Besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didik. 
  • Ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya.

Menurut Made Pidarta, faktor-faktor penyebab munculnya hambatan dalam manajemen kelas adalah antara lain: a) Pengelompokan (pandai, sedang, bodoh), b) Karakteristik individual, c) Kelompok yang pandai merasa terhalang oleh teman-teman yang berbeda dengannya.

Pengelolaan kelas tidak akan berjalan dengan lancar apabila terdapat masalah-masalah pada pendidik ataupun peserta didik, masalah-masalah yang muncul harus diatasi dengan cepat agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai sebagaimana mestinya.

Munculnya hambatan dalam manajemen kelas adalah antara lain: a) Pengelompokan (pandai, sedang, bodoh), b) Karakteristik individual, c) Kelompok yang pandai merasa terhalang oleh teman-teman yang berbeda dengannya.

Pengelolaan kelas tidak akan berjalan dengan lancar apabila terdapat masalah-masalah pada pendidik ataupun peserta didik, masalah-masalah yang muncul harus diatasi dengan cepat agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai sebagaimana mestinya.


Baca juga: Pengertian Manajemen Pendidikan
 

 

Post a Comment for "Ebook Manajemen Kelas Gratis"