Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CERPEN PERISTIWA 30 SEPTEMBER DI KOTA BINGKUANG

PERISTIWA 30 SEPTEMBER DI KOTA BINGKUANG

 

“Untin, ke Taplau yok!” 

Jari jariku menari di atas keypad nexian lalu mengirimnya ke nomor untin. Tak lama, smsku berbalas. Sesuai dugaan, Untin menerima tawaranku. 

Angkot berwarna pink mengantarkan hingga ke pasar raya. Mampir sebentar di toko acsesoris, lalu melangkah ke Taplau. Kami berdua saja. 

Taplau (tapi lauik) alias pantai, salah satu tempat wisata di kota padang. Aku menyukai pantai karena anginnya nan segar. Aku bahkan betah berlama-lama duduk hingga sore hari. Bersama angin pikiranku melayang kemana saja. Tak jarang pula berhayal tingkat tinggi. 

Biasanya jagung bakar lengkap dengan es kelapa muda turut menemani. Amboii, nikmatnya.

Kaki terus melangkah, sesekali sambil ngobrol dan tertawa riang, lupakan semua bab skripsi yang harus direvisi. Namun sore itu naas, sebelum kaki menginjak pantai, aku merasakan bumi ini bergetar hebat

“Yaa Allah, gempaaa... Gempa untin...!” teriakku histeris. Aku terduduk, tak sanggup berdiri. Untin ikut terduduk. 

 


 

Debu-debu bertebaran menghalangi pandangan. Sesaat mataku menoleh ke seberang jalan. Gedung bertingkat tinggi itu telah lenyap, rata dengan tanah.

Cepat, kami putar arah, di sepanjang jalan terlihat gaduh. Bahkan ada yang terduduk pingsan. Kendaraan berseliweran namun tak satu pun yang menerima penumpang, termasuk angkot. Semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing, terlebih terdengar beberapa suara yang meneriakkan tsunami.

Baca juga: Cara menulis buku yang efektif

Aku terus istigfar, lagi dan lagi.

“Kama, nak?” Sebuah motor berhenti tiba-tiba di hadapan kami.

“Ka lubuk lintah, pak...”

“Naiaklah, nak... Naiaklah!”

Yaa Allah, di sangat genting seperti ini sang bapak masih sempat menawarkan bantuan. 

Kami naik cepat. Aku naik duluan, untin di belakang. Tarik tiga. 

Suara-suara masih meneriakkan tsunami. Aku dan untin semakin beristigfar kencang. Bapak berhati mulia itu tetap fokus mengemudikan motornya di tengah-tengah kemacetan.

Tepat di simpang Haru, ia menghentikan motornya. “turun di siko se yo, nak. Insyaallah lah aman.” Ucap sang bapak ramah. 

“Makasih banyak, pak.” Ucapku dan untin bergantian. Beliau mengangguk lalu hilang dalam pandangan.

Bagi kami, bapak nan baik hati itu adalah malaikat penolong. Aku bahkan tak sempat memandang wajahnya.

Hingga malam, suasana masih mencekam. Sinyal hilang seketika. Aku dan untin kehilangan arah, tak tahu akan kemana kaki dilangkahkan. 

Bumi andalas benar-benar kacau malam itu. Pejalan kaki dan pengendara tampak memenuhi jalanan. Aku dan untin ada di barisan pejalan kaki. Pegel dan perih di telapak kaki tak lagi dihiraukan. Kami terus saja berjalan tanpa tujuan.

Arloji di tangan menunjukkan jam 11 malam. Namun kaki tak bisa dihentikan. 

“Kita ke Unand aja yuk, kak... Di sana lebih aman.” Mahasiswa UNP yang tak sengaja bertemu di jalan memberikan penawaran. Selain lebih aman, ia mengaku punya teman dekat yang bisa ditumpangi untuk sekedar merebahkan diri.

Aku manut. Untin pun begitu. Sama sekali tak kepikiran untuk pulang ke kos. Malam nan mencekam itu pun berlalu. Setelah azan subuh berkumandang, aku dan untin berpamitan untuk ke mesjid, lalu melanjutkan perjalanan ke kos masing-masing.

Aku tak henti-hentinya bersyukur atas keselamatan dan kesehatan yang masih Allah berikan. Tak terbayang jika saat itu aku terjebak dalam reruntuhan dan meninggal dunia. 

Namun Allah masih berbaik hati, masih memberikan kesempatan untuk bertobat, masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan orangtua dan keluarga yang saat itu mungkin begitu mengkhawatirkanku. 

“Thanks, Rabb, atas semua kesempatan ini.” Bisikku pelan.

 

The End

*Kisah nyata tahun 2009 silam.

Baca juga: Tips menjaga mood menulis

Post a Comment for "CERPEN PERISTIWA 30 SEPTEMBER DI KOTA BINGKUANG"