Tragedi 30 September 2009 di Kota Bingkuang




“Untin, ke Taplau, yuk!”

Jari-jariku lincah menari di atas keypad ponsel Nexian kesayanganku. Sebuah pesan singkat meluncur ke nomor Untin. Tak sampai semenit, balasan pun masuk.

"Oke."

Senyumku mengembang. Sesuai dugaan, Untin tak pernah menolak ajakan ke Taplau.

Angkot berwarna merah muda mengantar kami hingga Pasar Raya. Kami mampir sebentar ke toko aksesori, sekadar melihat-lihat gelang dan jepit rambut, lalu kembali melangkah menuju Taplau.

Hanya kami berdua.

Taplau—Tapi Lauik—begitulah orang Padang menyebut kawasan Pantai Padang. Tempat itu selalu menjadi pelarianku ketika penat melanda. Semilir anginnya seolah mampu mengusir sesak di kepala. Aku bisa duduk berjam-jam memandangi laut hingga matahari tenggelam, membiarkan pikiran mengembara ke mana saja. Kadang berkhayal setinggi langit, kadang hanya diam menikmati suara ombak.

Biasanya, soreku akan terasa sempurna jika ditemani jagung bakar dan segelas es kelapa muda.

Amboi...

Nikmatnya sederhana, tetapi selalu membuat hati tenang.

Sambil berjalan, kami mengobrol dan tertawa lepas. Untuk beberapa saat, revisi skripsi yang menumpuk berhasil kami lupakan.

Namun, ternyata Allah telah menyiapkan sore yang tak akan pernah kulupakan.

Belum sempat kakiku menginjak pasir pantai...

Brukkk...

Bumi berguncang sangat hebat.

“Ya Allah... gempaaa...! Gempa, Untin!” teriakku histeris.

Tubuhku seketika kehilangan keseimbangan. Aku terduduk di trotoar. Untin pun ikut terduduk di sampingku.

Getaran itu terasa seperti tak ada habisnya.

Debu-debu beterbangan memenuhi udara hingga pandanganku menjadi kabur. Saat menoleh ke seberang jalan, dadaku seakan berhenti berdetak.

Gedung bertingkat yang tadi masih berdiri kokoh...

Kini telah rata dengan tanah.

Aku membeku.

Kami segera berbalik arah. Suasana berubah menjadi lautan kepanikan. Orang-orang berlari tanpa tujuan. Ada yang menangis, ada yang berteriak memanggil keluarganya, bahkan beberapa orang tampak pingsan di pinggir jalan.

Kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi. Tak satu pun berhenti mengangkut penumpang. Semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk itu, terdengar suara yang terus bersahutan.

“Tsunami...!”

“Tsunami...!”

“Tsunami datang...!”

Aku hanya mampu beristigfar.

"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah..."

Berulang kali.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapan kami.

“Kama, Nak?” tanya seorang bapak.

“Ka Lubuk Lintah, Pak...” jawabku dengan suara bergetar.

“Naiaklah, Nak... naiaklah!”

Ya Allah...

Di tengah keadaan yang begitu genting, masih ada orang yang rela berhenti membantu dua perempuan asing.

Tanpa berpikir panjang kami langsung naik. Aku duduk di tengah, Untin di belakang.

Bertiga dalam satu motor.

Sepanjang perjalanan, suara teriakan tentang tsunami masih terdengar dari berbagai arah. Aku dan Untin tak berhenti beristigfar.

Sementara bapak itu tetap fokus mengendarai motornya, menerobos kemacetan yang semakin menggila.

Sesampainya di Simpang Haru, beliau menghentikan motornya.

“Turun di siko se yo, Nak. Insyaallah lah aman.”

“Makasih banyak, Pak...” ucap kami hampir bersamaan.

Beliau hanya mengangguk, lalu kembali melaju.

Hingga kini aku bahkan tak pernah tahu siapa namanya.

Bagiku, beliau adalah malaikat yang Allah kirim sore itu.

Malam pun tiba.

Namun suasana belum juga tenang.

Jaringan telepon hilang total. Kami tak bisa menghubungi siapa pun. Aku dan Untin benar-benar kehilangan arah.

Bumi Andalas malam itu berubah menjadi lautan manusia. Jalanan dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki. Semua mencari tempat yang dianggap aman.

Aku dan Untin ikut berjalan bersama kerumunan.

Entah ke mana.

Telapak kaki terasa pegal dan perih. Namun rasa lelah tak lagi kami pedulikan.

Yang kami inginkan hanya satu.

Selamat.

Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Langkah kaki masih terus menyusuri jalanan.

“Kita ke Unand aja, yuk, Kak. Di sana lebih aman.”

Seorang mahasiswa UNP yang tak sengaja kami temui menawarkan bantuan. Ia mengaku memiliki teman di sekitar kampus Universitas Andalas yang bisa kami tumpangi untuk sekadar beristirahat.

Aku mengangguk.

Untin pun setuju.

Tak sedikit pun terpikir untuk kembali ke kos malam itu.

Barulah setelah azan Subuh berkumandang, kami berpamitan untuk menunaikan salat di masjid, kemudian kembali menuju kos masing-masing.

Peristiwa itu mengajarkanku satu hal.

Hidup benar-benar dapat berubah hanya dalam hitungan detik.

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa sore yang kami rencanakan untuk menikmati angin pantai justru berubah menjadi perjuangan mempertahankan nyawa.

Aku terus bersyukur.

Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup.

Masih memberiku kesempatan untuk bertobat.

Masih memberiku kesempatan memeluk kedua orang tuaku kembali.

Masih memberiku kesempatan memperbaiki diri.

Di antara rasa haru yang memenuhi dada, aku hanya mampu berbisik pelan,

"Terima kasih, ya Rabb... atas kesempatan hidup yang masih Engkau titipkan kepadaku."

 


Post a Comment

0 Comments