Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa

Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa 

 


ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian Tindakan kelas yang bertujuan untuk menemukan dan menganalisis apakah dengan mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Kerinci. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Kabupaten Kerinci. Metode pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi observasi, tes, dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini motivasi dan prestasi belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Dimana pada siklus I hanya 52,38%, lalu meningkat pada siklus II menjadi 85,71%. Kemudian pada siklus III meningkat menjadi 95,24%. Hal ini menunjukkan bahwa model pmebelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.

Kata kunci: Model Pembelajaran, Jigsaw, Motivasi belajar


ABSTRACT

This research is a classroom action research that aims to find and analyze whether implementing the jigsaw type cooperative learning model can increase students' motivation and learning achievement at Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Kerinci. The subjects in this study were students of class XI Madrasah Aliyah Private (MAS) Kerinci Regency. Data collection methods used in this study include observation, tests, and documentation. The results showed that through the implementation of the jigsaw type cooperative learning model, students' motivation and learning achievement increased in each cycle. Where in the first cycle was only 52.38%, then increased in the second cycle to 85.71%. Then in the third cycle it increased to 95.24%. This shows that the jigsaw cooperative learning model can increase students' motivation and learning achievement.

Keywords: Learning Model, Jigsaw, Learning Motivation




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Salah satu faktor yang ikut menentukan keefektifan dalam proses pembelajaran adalah motivasi belajar. Jika memiliki motivasi belajar yang tinggi, peserta didik tentu akan belajar dengan sungguh-sungguh. Motivasi belajar merupakan daya penggerak yang dapat mendorong peserta didik untuk belajar.

Menurut Hamzah B. Uno (2011: 23), motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik untuk mengadakan tingkah laku disertai beberapa indikator yang mendukung, seperti adanya Hasrat atau keinginan, harapan dan cita-cita masa depan, serta lingkungan belajar yang kondusif. Sedangkan Winkel (2005: 160) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar untuk mencapai suatu tujuan.

Motivasi belajar memiliki peran penting dalam pembelajaran, dimana motivasi dapat memberikan penguatan belajar, memperjelas tujuan belajar, dan menentukan ketekunan dalam belajar. Selain itu, Oemar Hamalik (2011: 108), menyebutkan bahwa motivasi juga berfungsi untuk mendorong timbulnya suatu kelakuan, sebagai pengarah dalam mencapai tujuan, serta berfungsi sebagai motor penggerak dalam kegiatan belajar.

Melihat pentingnya motivasi dalam belajar, guru dituntut untuk mampu memfasilitasi kegiatan pembelajaran dengan dengan baik. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang efektif dan inovatif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiasih (2015), metode pembelajaran yang digunakan sangat berpengaruh pada motivasi belajar siswa. Untuk itu perlu adanya metode yang menarik dan tidak monoton agar motivasi belajar siswa semakin meningkat. Guru juga harus dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter peserta didik sehingga mereka menjadi tertarik mengikuti proses pembelajaran.

Salah satu model pembelajaran yang dapat dapat diterapkan oleh guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik adalah model pembelajaran jigsaw. Metode jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kawan-kawan dari Universitas John Hopkin. Metode ini dikembangkan dengan tujuan agar peserta didik dapat mempelajari informasi-informasi melalui kerja kelompok.

Suyadi (2015: 58) menjelaskan bahwa Jigsaw Learning adalah metode yang dapat digunakan secara luas dan banyak memiliki kesamaan dengan metode sebelumnya. Perbedaannya adalah peserta didik tidak berdebat, melainkan saling mengajarkan materi pelajaran. Nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam metode ini adalah rasa ingin tahu dan gemar membaca.  

Rusman menjelaskan bahwa pembelajaran model Jigsaw dikenal juga dengan metode kooperatif, karena setiap anggota kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Sedangkan Anita Lie (2005: 69), menjelaskan bahwa Teknik Jigsaw dapat digunakan dalam pembelajaran membaca, menulis, mendengarkan, maupun berbicara. Dan Teknik ini dapat digunakan dalam berbagai pelajaran.

Tujuan penerapan metode Jigsaw adalah untuk melatih peserta didik untuk terbiasa berdiskusi dan bertanggung jawab secara individu untuk membantu temannya memahami materi (Ismail, 2008: 83). Dalam model jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan dan mengolah informasi.

Hasil observasi peneliti di kelas XI MAS Kerinci diketahui bahwa motivasi dan prestasi belajar siswa masih rendah. Selain itu juga peserta didik lebih bersifat pasif dan kurang aktif bertanya maupun mengemukan pendapatnya. Peserta didik juga kurang termotivasi untuk memecahkan masalah secara Bersama. Akibatnya, prestasi belajar siswa pun menjadi rendah.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Implementasi Model Pembelajaran Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI MAS Kerinci. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah: untuk mengetahui apakah model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa di MAS Kerinci.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “apakah model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI MAS Kerinci?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah penerapan metode Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI MAS Kerinci.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru, dan juga kepala sekolah sebagai manajer di Lembaga Pendidikan. 



BAB II
LANDASAN TEORI


A. Model Pembelajaran Jigsaw

1. Pengertian Model Jigsaw

        Jigsaw merupakan salah model pembelajaran dari Cooperative Learning. Pembelajaran menggunakan model Jigsaw ini mengambil pola kerja zigzag, dimana siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Lie dalam Rusman (2014: 218), bahwa pembelajaran kooperatif model Jigsaw merupakan model belajar dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil, mereka saling bekerjasama dan saling ketergantungan.

        Menurut Sudrajat (2010: 5), model pembelajaran Jigsaw merupakan suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Sedangkan Zaini (2008: 56), menjelaskan bahwa model pembelajaran Jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menajdi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar.

        Suyadi menjelaskan bahwa model Jigsaw adalah metode yang dapat digunakan secara luas. Melalui model pembelajaran Jigsaw ini, guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk diselesaikan. Jika tugas yang diberikan dirasa sulit, siswa dapat membentuk kelompok para ahli. Oleh karena itu, model jigsaw ini juga disebut sebagai model tim ahli.

        Anita Lie menjelaskan bahwa teknik jigsaw dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Teknik ini juga menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara.

        Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi lebih termotivasi dan percaya diri dalam belajar. Model pembelajaran ini juga memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.

2. Tujuan Model Pembelajaran Jigsaw

        Model pembelajaran Jigsaw memiliki tujuan penting untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan Kerjasama dan kolaborasi. Selain itu, model pembelajaran jigsaw juga dapat mengembangkan sikap solidaritas sosial di kalangan siswa. Menurut Johnson & Johnson yang dikutip oleh Trianto (2009: 57), menyatakan bahwa tujuan pokok pembelajaran model Jigsaw adalah dapat memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman, baik secara individu maupun kelompok.

        Dalam model kooperatif jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain.

3. Karakteristik Model Pembelajaran Jigsaw

        Pembelajaran model Jigsaw berbeda dengan model pembelajaran lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Beberapa karakteristik pembelajaran jigsaw dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran dilakukan secara tim 
  2. Keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok 
  3. Keterampilan bekerja sama dipraktekkan melalui kegiatan pembelajaran dalam kelompok. 
  4. Didasarkan pada manajemen kooperatif. 
  5. Langkah-langkah Metode Jigsaw

    Adapun langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:

  1. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. 
  2. Tiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa 
  3. Tiap kelompok diberikan bahan ajar dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. 
  4. Dari masing-masing kelompok diambil 1 anggota untuk membentuk kelompok baru atau kelompok pakar. 
  5. Kemudian kelompok pakar Kembali lagi ke kelompok asal untuk mengajarkan anggota kelompoknya. 
  6. Selama proses pembelajaran, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator. 
  7. Guru kemudian melakukan evaluasi, baik secara individu maupun kelompok (Made Wina, 2009: 193-194).

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Jigsaw

        Kelebihan dari model pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:

  1. Dapat mengembangkan hubungan antar siswa 
  2. Menerapkan bimbingan sesama teman 
  3. Rasa percaya diri siswa yang tinggi 
  4. Dapat memperbaiki kehadiran 
  5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar 
  6. Sikap apatis lebih berkurang 
  7. Pemahaman materi lebih mendalam, dan 
  8. Dapat meningkatkan motivasi belajar.

        Adapun kelemahan model jigsaw adalah:

  1. Prinsip utama pembelajaran ini adalah “Peerteaching” yaitu pembelajaran oleh teman sendiri. Ini akan menjadi kendala karena persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan didiskusikan bersama dengan siswa lain. Dalam hal ini pengawasan guru menjadi hal mutlak diperlukan agar jangan sampai terjadi salah konsep (miss conception). 
  2. Sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan materi pada teman, jika siswa tidak percaya diri, pendidik harus mampu memainkan perannya dalam memfasilitasi kegiatan belajar. 
  3. Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut. 
  4. Awal pembelajaran ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bias berjalan dengan baik. 
  5. Aplikasi metode ini pada kelas yang besar (> 40 siswa) sangat sulit. 
6. Prinsip-prinsip Metode Jigsaw

    Menurut Johnson & Johnson dan Sutton yang dikutip oleh Trianto, terdapat lima prinsip belajar kooperatif, yaitu:

  1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untukmencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan merasa sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. 
  2. Interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. 
  3. Tanggung jawab individual. Tanggung jawab individual siswa dalam hal: (1) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (2) siswa tidak dapat hanya sekadar “membonceng” pada hasil kerja teman jawab siswa dan teman sekelompoknya. 
  4. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam hal ini, seorang siswa dituntut untuk belajar berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya, bersikap dan menyampaikan ide. 
  5. Proses kelompok. Proses kelompok terjadi ketika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.


B. Motivasi Belajar

        Motivasi belajar bukanlah sesuatu yang siap jadi, namun diperoleh dan dibentuk oleh lingkungan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nana Syaodih Sukmadinata (2005: 61), bahwa motivasi adalah kekuatan yang mendorong kegiatan individu untuk mencapai tujuan. Siswa akan melakukan upaya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan apabila memiliki motivasi yang tinggi.

        Sardiman (2007: 75) menjelaskan bahwa motivasi belajar adalah faktor psikis yang memiliki peranan dalam menumbuhkan gairah dan semangat untuk belajar. Dengan adanya motivasi, siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga kualitas pembelajaran menjadi lebih meningkat. Sedangkan Purwanto (2002: 71) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu usaha untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil dan tujuan tertentu.

        Motivasi terdiri dari motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik yakni motivasi yang berasal dari dalam diri siswa untuk melakukan sesuatu. Siswa yang memiliki motivasi ini akan rajin dalam belajar, dan tidak membutuhkan dorongan dari luar. Siswa yang memiliki motivasi intrinsic akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, dan ahli dalam bidang tertentu. Sedangkan motivasi ekstrinsik yakni motivasi yang datang dari luar diri siswa.

        Motivasi memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah: 1) mendorong siswa untuk berbuat, 2) menentukan arah dan perbuatan, 3) menyeleksi perbuatan. Menurut Oemar Hamalik (2003: 16), motivasi memiliki tiga fungsi yaitu sebagai berikut:

  1. Mendorong timbulnya suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar. 
  2. Berfungsi sebagai pengarah, artinya menggerakkan perbuatan ke arah pencapaian tujuan yang diinginkan. 
  3. Berfungsi sebagai penggerak, artinya motivasi dapat menjadi mesin yang menentukan cepat atau lambatnya pekerjaan.

C. Prestasi Belajar

        Prestasi belajar pada dasarnya berasal dari dua suku kata yakni prestasi dan belajar. Menurut kamus populer, prestasi ialah hasil sesuatu yang telah dicapai. Sedangkan prestasi belajar yaitu suatu perubahan yang dicapai seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran (Slameto, 2003: 10). Perubahan tersebut meliputi perubahan tingkah laku, keterampilan, dan juga pengetahuan.

        Menurut Nana (2009: 102), hasil belajar merupakan realisasi dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki oleh seseorang. Hasil belajar dapat dilihat dari perilakunya, pengetahuan, dan juga keterampilannya. Sedangkan Sutratinah (2001: 43), menjelaskan bahwa prestasi belajar yaitu penilaian hasil usaha yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai.

        Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian kegiatan belajar dan merupakan bentuk perumusan akhir yang diberikan pendidik untuk mengetahui kemampuan siswanya. Prestasi belajar memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah: 1) sebagai indikator kualitas dan kuantitas peserta didik, 2) sebagai bahan informasi dan inovasi Pendidikan, 3) sebagai indikator intern dan ekstern. Artinya prestasi belajar dapat digunakan sebagai tolak ukur tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan (Purwanto, 2003: 155).

        Prestasi belajar siswa yang kurang baik, tidak selalu karena siswa itu bodoh atau mempunyai IQ rendah. Namun, dipengaruhi oleh banyak faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa menurut Syah (2006: 144) adalah sebagai berikut:

1. Faktor internal

Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri siswa, seperti faktor jasmani, psikologi, dan juga faktor kelelahan.

2.    Faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor dari luar diri individu. Faktor eksternal ini meliputi: a) faktor keluarga, faktor lingkungan sekolah, dan juga faktor masyarakat.

3.    Faktor pendekatan belajar

Faktor pendekatan belajar yakni strategi atau metode yang digunakan siswa dalam belajar.

         Menurut Ngalim (2006: 102), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yaitu: 1) faktor sosial, yang meliputi faktor keluarga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam proses pembelajaran, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, 2) faktor individual, diantaranya adalah kematangan, kecerdasan, Latihan, motivasi, dan faktor pribadi.



BAB III
METODE PENELITIAN


A. Pendekatan Penelitian

        Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran. Guru sebagai peneliti dan pelaksana tindakan. Dalam melakukan observasi dibantu teman sejawat. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus.

B. Tempat dan Subjek Penelitian

        Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAS) Koto Rendah Kabupaten Kerinci. Adapun yang menjadi subjek penelitian dalam PTK ini adalah siswa/siswi kelas XI MAS Kerinci.

C. Teknik Pengumpulan Data

        Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meliputi: observasi, melaksanakan tes, dan dokumentasi.

1. Observasi

        Observasi yaitu pengamatan menggunakan panca indera untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Nawawi dan Martini menjelaskan bahwa observasi merupakan kegiatan mengamati yang diikuti dengan pencatatan secara urut. Hal ini terdiri atas beberapa unsur yang muncul dalam fenomena di dalam objek yang diteliti.

        Menurut Widoyoko (2014:46) observasi merupakan “pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian.

        Observasi yang dilakukan dalam penelitian Tindakan kelas ini adalah observasi aktivitas belajar siswa.

2. Tes

        Tes dilaksanakan setiap akhir siklus untuk mengetahui hasil belajar siswa. Tes yang digunakan berbentuk pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban yang berguna untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.

3. Dokumentasi

        Sedangkan dokumentasi yaitu melakukan pengumpulan data melalui arsip, foto, kegiatan-kegiatan dan lain sebagainya. Menurut Arikunto (2006:158) adalah metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.

        Menurut Riyanto (2012:103) metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data-data yang sudah ada. Berdasarkan penjelasan ahli maka dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi merupakan cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan menyelidiki benda-benda tertulis dan mencatat hasil temuannya. Dokumentasi untuk memperoleh identitas siswa yang berperilaku agresif dan catatan guru mengenai siswa tersebut.

D. Teknik Analisis Data

        Analisis data adalah proses menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit- unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono: 2014: 244).

E. Prosedur Penelitian

        Prosedur penelitian dilakukan melalui tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan Tindakan, observasi, dan refleksi.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian

        Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di dalam penelitian ini, dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Siklus I

        Hasil observasi pada siklus I menunjukkan bahwa peserta didik masih cukup asing dengan model pembelajaran jigsaw. Hal ini terlihat dari suasana kelas, dimana siswa masih kaku dalam melakukan prosedur model pembelajaran Jigsaw. Untuk mengatasinya, guru memberikan informasi secara lebih detail kepada siswa. Pemberian informasi tidak hanya dilakukan pada pertemuan pertama saja, namun juga pada pertemuan berikutnya.

        Hasil pengamatan aktifitas siswa dalam kelompok pada siklus I, yang memberikan perhatian penuh terhadap informasi yang diberikan hanya sekitar 42,86%. Pada aspek ini dapat dilihat bahwa ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Kemudian, siswa yang mengerjakan materi dan juga tugas-tugas pada siklus I ini hanya sebesar 52,38%. Hal ini disebabkan masih ada siswa yang merasa malu atau tidak pede untuk melakukan diskusi karena memiliki kemampuan yang kurang dibandingkan dengan anggota kelompoknya yang lain.

        Kemudian, berdasarkan hasil evaluasi pada siklus I, dapat diketahui bahwa nilai peserta didik belum mencapai indikator keberhasilan minimal (KKM). Dimana hanya 2 orang siswa yang berhasil mencapai KKM, sementara yang belum mencapai KKM berjumlah 19 orang atau sekitar 90,48%. Hal ini tentu saja membutuhkan Tindakan selanjutnya yakni pada siklus II.

2. Siklus II

        Pada siklus II, rata-rata peserta didik yang memberikan perhatian terhadap apa yang dijelaskan oleh guru yakni sebesar 66,67%. Dibandingkan pada siklus I, pada siklus II ini siswa mulai menunjukkan beberapa perubahan baik dari aktivitas maupun dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Namun, suasana kelas masih kurang tenang dan terlihat gaduh saat Kerjasama menyelesaikan soal atau tugas yang diberikan oleh guru.

        Pada siklus II ini, guru melakukan perbaikan dengan cara memberikan penilaian kepada siswa atau kelompok yang mampu menyelesaikan tugas dengan baik dan benar. Selain itu, guru juga terus membimbing peserta didik dalam kelompoknya sehingga mereka dapat mengerjakan tugas dengan lebih terarah dan benar. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui persentase aktivitas peserta didik dalam mengerjakan tugas dalam kelompok mengalami peningkatan menjadi 85,71%. Sedangkan dari hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II, diketahui bahwa hasil belajar peserta didikk mengalami peningkatan. Dimana peserta didik yang mencapai KKM berjumlah 6 orang dengan presentase 28,6%.

3. Siklus III

        Pada siklus III, metode pembelajaran jigsaw yang digunakan oleh guru menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa peserta didik yang memberikan perhatian pada setiap informasi yang diberikan oleh guru mencapai 90,18%. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran jigsaw yang diterapkan atau yang digunakan oleh guru mengalami peningkatan.

        Berdasarkan hasil observasi juga, peserta didik sudah mulai aktif menyelesaikan tugas yang diberikan Bersama anggota kelompoknya. Mereka sudah mulai berani melakukan diskusi dan mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Pada siklus III ini peningkatan yang terjadi pada aktivitas peserta didik mencapai 95,24%. Peserta didik mulai menyadari pentingnya Kerjasama dalam kelompok untuk memberikan nilai terbaik untuk kelompoknya.

        Pada siklus III, diketahui bahwa peserta didik yang memperoleh nilai 7,5 ke atas berjumlah 18 orang dengan presentase 85,7%, sedangkan yang memperoleh nilai kurang dari 7,5 berjumlah 3 orang dengan presentase 14,3%.

B. Pembahasan

        Kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran jigsaw menunjukkan hasil yang efektif. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dan juga peningkatan hasil belajar. Dari hasil observasi selama melakukan penelitian di MA Swasta Kerinci terlihat jelas bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari setiap siklusnya.

        Melalui model pembelajaran jigsaw, peserta didik juga lebih termotivasi dan lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung, meskipun pada awalnya masih kaku dan belum terbiasa. Namun seiring berjalan waktu dari siklus ke siklus, peserta didik mulai terbiasa melakukan Kerjasama dan melakukan diskusi dengan anggota kelompoknya.

        Pada siklus I, kebanyakan dari siswa belum mencapai ketuntasan. Sebagian siswa juga masih belum nyaman dan merasa belum percaya diri. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, proses pembelajaran mulai mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari aktifitas dan hasil belajar peserta didik. selanjutnya, pada siklus III, peningkatan aktifitas dan hasil belajar peserta didik naik secara signifikan.

        Model pembelajaran jigsaw sangat tepat digunakan untuk mata pelajaran apa pun, karena metode pembelajaran ini lebih memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara aktif, penuh Kerjasama, dapat menarik minat peserta didik serta menantang peserta didik untuk dapat memberikan yang terbaik.

        Beberapa kelebihan dari model pembelajaran jigsaw yakni:

  1. Dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai rata-rata hasil belajar peserta didik menunjukkan peningkatan dari siklus I, siklus II, dan siklus III. 
  2. Dapat meningkatkan Kerjasama, keaktifan, kemandirian, dan motivasi yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dari respon peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

        Secara psikologis, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini memberikan manfaat yang besar terhadap peserta didik, antara lain: 1) dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk belajar dengan giat karena adanya tekanan dari anggota kelompoknya serta menyadari adanya penilaian yang berkelanjutan, 2) menghilangkan rasa takut dan memunculkan rasa percaya diri pada peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya, 3) menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kerjasama, berpikir kritis, dan kemampuan dalam melakukan komunikasi dengan teman.

        Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Supriyadi (2003) bahwa tujuan khusus model pembelajaran tipe jigsaw ini diantaranya adalah mendorong kecerdasan dalam berpikir, melatih kemampun dalam berbicara dan mendengar, dan berlatih dalam menyampaikan informasi. Adapun kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran tipe jigsaw di Madrasah Aliyah Swasta Kerinci diantaranya adalah: 1) kurangnya kesadaran peserta didik untuk belajar, 2) peserta didik yang memiliki kemampuan di atas teman-teman kelompoknya tampak menjadi pengatur dalam diskusi, sementara yang kemampuannya rendah atau yang biasa saja hanya mengikutinya. Hal ini menyebabkan partisipasi anggota lain menjadi berkurang, 3) beberapa siswa merasa canggung untuk menyampaikan materi, 4) peserta didik yang cerdas cepat merasa bosan karena harus mengimbangi temannya yang lambat.


BAB V
PENUTUP


A. Kesimpulan

        Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MAS Kerinci dapat disimpulkan bahwa:

  1. Implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar peserta didik, hal ini ditandai dengan peningkatan aktivitas belajar peserta didik pada setiap siklusnya. Pada siklus I rata-rata 52, 38%, siklus II memiliki rata-rata 85,71%, dan siklus III mendapatkan rata-rata 95, 24%. 
  2. Implementasi model pembelajaran Jigsaw mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa, baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

B. Saran

        Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Hendaknya kreativitas guru lebih ditingkatkan terutama dalam menerapkan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif, salah satunya menerapkan model pembelajaran jigsaw. 
  2. Sekolah hendaknya memberikan fasilitas yang memadai kepada guru-guru dalam mengimplementasikan model-model pembelajaran di kelas.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Anita Lie. 2005. Cooperatif Learning. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 
  2. Arif Ismail dan Isjoni. Model-Model Pembelajaran Mutakhir. Yogyakarta: Pustaka. Pelajar. 2008. 
  3. Ariyani, R. 2017. Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan profesionalisme guru. Al-Afkar: Jurnal Keislaman & Peradaban, 5(1). 
  4. A.M, Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja. Grafindo Persada. 
  5. Hisyam Zaini. 2008. Srategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Mandiri. 
  6. Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. PT Bumi Aksara. 
  7. Made, Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 
  8. Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. 
  9. Ngalim Purwanto. 2002. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. Bandung: Remaja. Karya. 
  10. Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: Raja Grafindo Persada. 
  11. Suyadi. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015. 
  12. Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 
  13. Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana. 
  14. Uno, H. 2011. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara 
  15. Winkel. WS 2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Baca juga artikel lainnya:




Post a Comment for "Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa"