Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU 
DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN 
 
 

 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah salah satu pilar suatu bangsa, tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diterapkan di negara tersebut. Tidak salah apa bila suatu bangsa yang pendidikannya berkualitas maka akan menjadi suatu bangsa yang akan dikagumi dan menjadi contoh bagi bangsa lain. Keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan akan sangat tergantung pada penerapan manajemen mutu terpadu pendidikan. Manajemen mutu terpadu pendidikan adalah suatau kegiatan dan rangkaian yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama kelompok manusia yang tergabung dalam sebuah organisasi pendidikan yang memandang kualitas pendidikan dari sudut kepuasan pelanggan.

Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan, dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]

Pendidikan merupakan upaya yang dapat mempercepat pengembangan potensi manusia untuk dapat mengemban tugas yang dibebankan padanya, karena sejatinya tidak ada satupun mahluk yang dapat dididik, dan mendidik kecuali manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan fisik, moral, emosioanal, mental, serta keimanan dan ketakwaan seseorang.[2]
 
Kualitas sumberdaya manusia dalam suatu negara sangat erat kaitannya dengan pendidikan yang ada didalamnya. Dengan adanya pendidikan disuatu Negara akan memberikan banyak manfaat baik dalam segi sosial maupun bagi individu didalamnya, yang menjadikan bangsa serta warganya bermartabat dan menjadikan sumberdaya manusianya menjadi individu yang memiliki derajat.

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas, dibutuhkan manajemen pendidikan yang dapat mengarahkan sumber daya pendidikan. manajemen pendidikan adalah proses manajemen dalam pelaksanaan tugas pendidikan dengan memanfaatkan segala sumber secara efisien untuk mencapai tujuan secara efektif .[4]

Tujuan sangatlah penting untuk meraih standar, standar yang ditetapkan biasanya berasal dari pelanggan baik internal, ataupun eksternal, standar dari pelanggan dapat menghasilkan mutu tertentu yang harus diraih agar mampu memuaskan pihak pelanggan tersebut.

Mutu suatu layanan tentu menjadi tujuan, karena hal ini mempengaruhi satu organisasi dibandingkan organisasi lain yang pada akhirnya menjadi daya saing bagi organisasi tersebut, begitupun halnya dalam lembaga pendidikan. guna mencapai kepuasan pelanggan suatu lembaga atau organisasi harus mencari pola manajemen yang tepat, salah satu bentuk manajemen yang berhasil dimanfaatkan dalam dunia industri dan bisa diadaptasi dalam dunia pendidikan adalah TQM ( Total Quality Management), TQM merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, serta lingkungannya.[5]

Begitupun dalam dunia pendidikan, manajemen mutu terpadu pendidikan (Total Quality Manajemen in Education) menjadi sebuah pilihan untuk mencapai mutu terbaik. Manajemen mutu terpadu pendidikan merupakan salah satu paradigma dalam menjalankan bisnis bidang pendidikan yang berupaya memaksimalkan daya saing sekolah melalui perbaikan-perbaikan secara berkesinambungan atas kualitas, produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan sekolah.

Adapun strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah, institusi pendidikan menjadikan dirinya sebagai institusi jasa, yakni institusi yang memberikan pelayanan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pelanggan . jasa tau pelayanan yang diinginkan pelanggan tentu saja sesuatu yang bermutu dan memberikan kepuasan kepada mereka. Maka pada saat itulah dibutuhkan suatu sistem manajemen yang mempu memberdayakan istitusi pendidikan agar lebih bermutu.

Untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang bermutu sebagaimana diharapkan masyarakat, bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah , tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk didalamnya orang tua dan pelanggan internal maupun eksternal. Jerome S. Arcaro menyampaikan bahwa terdapat lima prinsip sekolah bermutu yaitu Fokus pada pelanggan, Keterlibatan total, Pengukuran, komitmen, serta Perbaikan berkelanjutan.[7]

Dilihat dari kelima prinsip menurut Jerome misi utama dari manajemen mutu terpadu pendidikan ini adalah fokus kepada pelanggan serta memenuhi kepuasan pelanggan. Tanpa mutu yang sesuai dengan keinginan pelanggan serta kebutuhannya, sekolah akan kehilangan pelanggannya karena suatu pendidikan dikatakan bermutu apabila antara pelanggan internal dan eksternal telah terjalin kepuasan atas jasa yang diberikan.[8]

Kedua adalah keterlibatan total jadi manajemen mutu terpadu menuntut Semua pihak bertanggung jawab untuk memecahkan masalah, serta menuntut semua tim memberi kontribusi bagi transformasi mutu; Ketiga adalah pengukuran yaitu pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana perencanaan telah dilaksanakan, serta melakukan evaluasi atas rencana yang telah dilaksanakan; Selanjutnya yang keempat adalah komitmen semua stakeholders memiliki komiten jangka panjang dalam mewujudkan visi dan misi serta dapat melakukan perubahan budaya agar penerapan manajemen mutu terpadu berjalan sukses; Terakhir adalah perbaikan berkelanjutan semua anggota secara konstan mencari cara untuk memeperbaiki setiap segala proses pendidikan seperti mengikuti workshop maupun pelatihan.[9]

Dalam konteks pengembangan manajemen mutu terpadu untuk layanan pendidikan, berarti semua perangkat sekolah dari kepala sekolah, guru, karyawan, dan tenaga kebersihan serta keamanan, harus benar-benar memiliki kultur pelayanan terbaik terhadap siswa dan orang tua siswa, sehingga mereka puas, tidak hanya terakhir setelah putera-puteri nya lulus, tetapi sejak awal mereka masuk kehalaman sekolah, mereka merasa aman, nyaman terlindungi, terhargai dan terlayani oleh perangkat sekolah yang berada digaris depan. Kemudian layanan administrasi efisien dan efektif cepat, tepat dan akurat, serta pegawai yang berada digaris depan harus bisa mengahadapi pelanggan dengan ramah. Begitu juga seorang guru harus mampu mengajar dengan persiapan yang baik, memperhatikan keragaman siswa, bersikap demokratis dalam pengembangan strategi, metode, media, dan tidak membiarkan ada anak didiknya yang tertinggal kelas. Dengan adanya sikap gruru seperti itu maka mata pelajaran yang dianjurkan oleh guru itu memiliki sebuah kopetensi penguasaan yang baik dan memuaskan bagi anak didik jika semua itu dilakukan. Dengan demikian kepala sekolahnya selain dinamis, progresif dia juga harus aspiratif, terbuka dengan saran-saran kemajuan dan mampu mengkomunikasikan gagasan serta berbagai persoalan sekolahnya dengan komite dalam sekolah untuk disampaikan pada kelompok yang peduli sekolah seperti halnya masyarakat lingkunganya. Oleh karena itu, perbaikan mutu yang berkelanjutan harus menjadi strategi yang wajib dalam paradigma peningkatan profesionalisme bagi pendidikan dalam sekolah. Dengan diadakanya strategi itu diharapkan dapat membantu untuk membatasi masalah rendahnya mutu pendidikan melalui optimalisasi sumberdaya manusia dan sumber dana yang secara langsung dapat meningkatkan kualitas dalam pendidikan.

Pada saat ini jasa pendidikan memegang peranan viral dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan agar para pengguna jasa pendidikan (siswa, mahasiswa atau peserta didik) memasukinya. Agar sekolah-sekolah tetap bertahan khususnya sekolah yang bernuansa islami dan mampu merespon kebutuhan masyarakat pada setiap zaman, maka ia harus memiliki strategi peningkatan kualitas dan cara pengukurannya yang efektif. Strategi tersebut pada dasarnya bertumpu pada kemampuan memperbaiki dan merumuskan visinya disetiap zaman yang dituangkan dalam rumusan tujuan pendidik yang jelas, Metode dan pendekatan yang pastisipatif, guru yang berkualitas, lingkungan yang kondusif dan saran prasana yang memadai.

Selain itu, di negara Indonesia Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 25 Tentang Standar Nasional Pendidikan yang bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat.[10]

Kualitas pendidikan adalah ukuran baik atau buruk dari proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui upaya bimbingan penagajaran dan pelatihan. “Sedangkan kualitas pendidikan menurut Sudarman Danim dapat di definisikan seabagai derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa”.[11]

Dengan demikian kualitas pendidikan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas pelayanan yang diperoleh atau yang diharapkan. Dengan demikian kualitas pendidikan dapat diartikan seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang diterima mereka.

Dari paparan diatas tampak jelas bahwa manajemen mutu terpadu merupakan suatu hal utama dan terpenting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu peneliti ingin menggali informasi dan temuan hasil penelitian yang berkenaan dengan manjemen mutu terpadu atau total quality management dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Grand Tour yang penulis lakukan di SMP Negeri 21 Merangin Kecamatan Tabir Ulu Kabupaten Merangin dapat diketahui bahwa penerapan manajemen mutu terpadu belum diterapkan secara optimal dan belum mengikuti aturan baku yang ada, dapat dilihat dari kurangnya kedisiplinan siswa, tidak adanya peningkatan kualitas guru, kurangnya nilai profesionalisme guru, dan kurangnya ketegasan dari kepala sekolah dalam mengambil dan menerapkan kebijkan yang sudah di tetapkan. 

Berawal dari grand tour di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan (Studi Kasus  di SMP Negeri 21 Merangin Desa Pulau Aro Kecamatan Tabir Ulu Kabupaten Merangin).


 
B. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Perencanaan Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan  di SMP Negeri 21 Merangin?
  2. Bagaimana Proses Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di SMP Negeri 21 Merangin?
  3. Bagaimana Hasil Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di SMP Negeri 21 Merangin?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

- Tujuan

  1. Untuk mengetahui dan menganalisis implementasi manajemen mutu terpadu di SMP Negeri 21 Merangin Desa Pulau Aro, Kecamatan Tabir Ulu.
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis kualitas pendidikan di SMP Negeri 21 Merangin Desa Pulau Aro, Kecamatan Tabir Ulu.
  3. Untuk mengetahui dan menganalisis implementasi manajemen mutu terpadu dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMP Negeri 21 Merangin Desa Pulau Aro, Kecamatan Tabir Ulu. (sesuaikan dengan rumusan masalah).
- Kegunaan penelitian
  1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangsih sebagai bahan dalam mengembangkan teori-teori manajemen atau kualitas pendidikan dalam khasanah ilmu pengetahuan.
  2. Hasil penelitian ini dapat membantu pimpinan lembaga pendidikan ataupun calon pendiri lembaga pendidikan agar menerapkan manajemen mutu terpadu agar lembaga pendidikan dapat menarik minat dan pengguna jasa pendidkan.

 
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Manajemen Mutu Terpadu
a. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu


Banyak yang berfikir bahwa Manajemen Mutu Terpadu atau sering disebut Total Quality management hanya menajadi urusan dunia bisnis saja, padahal Manajemen Mutu Terpadu dapat juga diterapkan dalam dunia pendidikan yang berkesinambungan dalam proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu dalam dunia bisnis telah mengilhami berbagai organisasi lainya termasuk organisasi pendidikan untuk mengadopsinya. Organisasi pendidikan yang menerapkan Manajemen Mutu Terpadu memandang kualitas dari sudut pandang pelanggan. alasannya karena pelangganlah sebagai pihak terakhir yang menilai kualitas dan tanpa pelanggan organisasi tidak akan ada. Dalam pendidikan yang dimaksud pelanggan adalah para pengguna jasa pendidikan, pelanggan pendidikan mencakup dua macam yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal pelanggan internal adalah kepala sekolah, guru, staff kependidikan lainya dan peserta didik. Pelanggan eksternal adalah orang tua, pasar kerja, pemerintahan dan masyarakat luasnya.

Menurut Ralp G.Lewis dan Douglas H.Smith mengatakan manajemen mutu terpadu mencakup tiga pengertian, yaitu: mencakup semua proses (every proses), mencakup setiap pekerjaan (every job), dan setiap orang (every person). terpadu dalam setiap proses berarti tidak sekedar produksi. Proses juga tercakup dalam keterpaduan, yang dimulai dari rancangan, kontruksi, penelitian dan pengembangan, keuangan, pemasaran, perbaikan dan fungsi lainnya yang harus terlibat didalamnya. demikian juga makna terpadu dalam setiap pekerjaan mencakup pembuatan produk. Jadi, sekretaris diharapkan tidak membuat kesalahan dalam pengetikan, akuntan tidak salah dalam perhitungan biaya, pimpinan tidak salah dalam membuat strategi. sedangkan terpadu dalam setiap orang adalah mengakui bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap mutu.[12]

b. Falsafah manajemen Mutu terpadu

“Adapun yang mendasari falsafah Manajemen Mutu Terpadu (MMT) terfokus pada pernyataan “kerjakan sesuatu yang benar, sejak pertama kali, setiap waktu (do the right thing, first time, every time)”.[13] (setiap ada bab dan sub bab, jangan langsung pada kutipan, masukkan kalimat dari penulis terlebih dahulu) maksudnya adalah semua fungsionaris dalam organisasi dituntut untuk memiliki tiga kemampuan yaitu: pertama, mengerjakan hal-hal yang benar. Ini berarti bahwa kegiatan yang menunjang organisasi demi memuaskan kebutuhan pelanggan yang dapat diterima, kegiatan yang tidak perlu jangan dilanjutkan lagi. Kedua, mengerjakan hal-hal yang benar, ini berarti bahwa setiap kegiatan harus dijalankan dengan benar. sehingga hasil kegiatan tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Ketiga, mengerjakan hal-hal yang benar pertama kali setiap waktu. hal ini dilandasi dengan dasar pemikiran untuk mencegah masalah yang timbul. 

Namun secara rinci Dr. W. Edward Deming, meletakkan kerangka pemikiran dalam perbaikan mutu secara berkelanjutan yang terdiri dari hal-hal sebagai berikut:

  1. Reaksi berantai untuk perbaikan berkualitas. Reaksi berantai tersebut menyatakan bahwa perbaikan kualitas akan meningkatkan kualitas pelanggan dalam hal produk dan jasa sehingga meningkatkan produktivitas organisasi.
  2. Transformasi organisasi. Kemampuan untuk mencapai perbaikan yang penting dan berkelanjutan menurut perubahan dalam nilai-nilai yang dianut. Selain itu proses kerja dan struktur kewenangan dalam organisasi harus dibenahi.
  3. Peran efisiensi pimpinan. Kepemimpinan mempunyai peran strategis dalam upaya perbaikan kualitas. Di setiap anggota organisasi harus memberikan kontribusi penting dalam upaya pimpinan, komitmen, kreativitas, maka lama kelamaanakan menjadilebih baik kedepannya.      
  4. Hindari dari praktik-praktik yang merugikan. Setiap keputusan yang didasarkan pada pandangan jangka pendek, sempit dan berkotak-kotak, akhirnya akan merugikan organisasi. Seperti tidak terdapat tujuan yang tetap dan hanya memikirkan keuntungan jangka pendek.
  5. Penerapan system of profound knowledge (sytem pengetahuan mendalam). Penerapan sistem tersebut meliputi penerapan empat disiplin yaitu: Orientasi pada sistem (system oriented), Teori variasi, Teori pengetahuan, dan Psikologi.

Sekolah merupakan institusi yang memilki peran strategis dalam pembinaan kepribadian anak. Di dalam sekolah terjadi proses transformasi kebudayaan kepada anak. Transformasi kebudayaan itu berlangsung melalui proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat. Sekolah bermutu (unggul) perlu ada dalam konsep kepala sekolah. Kepala sekolah perlu memahami manajemen mutu terpadu sebagai falsafah, metode, teknik dan strategimanajemen untuk perbaikan mutu sekolah, karena kinerja organisasi dalam sekolah senantiasa dinilai masyaraka. Kepala sekolah dan para guru perlu memahami harapan masyarakat terhadap sekolahnya. Bersamaan dengan perkembangan masyarakat yang kian kompetitif, maka organisasi dituntut mampu memberikan atau menghasilkan produk yang berkualitas. Produk diorganisasi pendidikan utamanya berbentuk jasa, sebagai produk layanan dalam organisasi yang memenuhi kualitas atau mutu.

c. Hakekat Manajemen Mutu Terpadu

Dalam aplikasinya, istilah mutu terpadu terhadap pendidikan dalam konteks aplikasinya konsep manajemen mutu terpadu terhadap pendidikan ditegaskan lagi oleh edward sallis bahwa manajemen mutu terpadu menekankan kepada dua konsep utama. pertama, sebagai filosofi perbaikan terus-menerus, dan kedua, berhubungan dengan alat-alat serta teknik seperti (analisis lapangan), yang digunakan untuk perbaikan kualitas dan harapan pelanggan. Berarti manajemen mutu pendidikan dapat juga disebut “mengutamakan pelajar” atau “program perbaikan sekolah” yang lebih dilakukan secara kreatif dan konstruktif. Ketepatan yang penting dalam manajemen mutu terpadu melalui programnya dapat mengubah kultur sekolah. Para pelajar dan orang tua menjadi tertarik terhadap perubahan yang ditimbulkan manajemen mutu terpadu melalui program perbaikan dalam sebuah lembaga pendidikan sekarang ini. manajemen mutu terpadu dalam pendidikan dapat di aplikasikan dalam lima pilar yaitu: (1) fokus kepada pelanggan baik internal maupun eksternal, (2) adanya keterlibatan total, (3) adanya ukuran baku mutu lulusan, (4) adanya komitmen, dan (5) adanya perbaikan secara berkelanjutan. Mutu terpadu pendidikan dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan pemusatan kepada pencapaian kepuasan harapan  pelanggan pendidikan, perbaikan terus-menerus, pembagian tanggung jawab dengan para pegawai, dan pengurangan pekerjaan yang tersisa dan pengerjaan kembali (ulang).

Adapun definisi TQM tersebut dan konsep-konsepnya didasarkan pada pendekatan Dr. Edward Deming terutama untuk masalah mutu, menurut deming dan para peneliti TQM, untuk mengimplementasikannya pada prioritas pertama perlu diperlukan pendidikan dan pelatihan yang sistemik dan sisteatik bagi seluruh personil organisasi eselon dari eselon bawah sampai eselon atas dengan materi (kurikulum) sesuai kebutuhan tiap tingkat dalam organisasi. Dengan pendidikan dan pelatihan demikian itu dapatlah dibentuk kelompok tenaga yang memiliki kemauan untuk mengimplementasikan TQM.

d. Komponen-Komponen Dalam Manajemen Mutu Terpadu

Komponen-komponen dalam manajemen mutu terpadu menurut Goetsch dan Davis mempunyai sepuluh unsur utama, yaitu:

1. Fokus Pada Pelanggan

Dalam MMTP, baik pelanggan Internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver, Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas manusia, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa. Pelanggan sekolah sebagaimana dikemukakan greenwood adalah siswa-siswa yang memperoleh pelajaran, orang tua yang membayar baik langsung maupun tidak langsung untuk biaya pendidkan anak-anaknya, lanjut, atau institusi pendidikan tempat siswa melanjutkan study, para pemakai tenaga kerja yang perlu merekrut staff terampil, memiliki keahlian dan berkependidikan sesuai dengan kebutuhan dan negara yang memerlukan pegawai yang terdidik dengan baik.[18]

2. Obsesi Yang Tinggi Terhadap Kualitas

Dalam organisasi yang menerapkan MMTP, pelanggan eksternal dan internal yangmenentukan kualitas. Dengan kualitas tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa yang ditentukan mereka, hal ini berarti bahwa semua karyawan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya berdasarkan perspektif. Bagaimana kita dapat melakukannya dengan lebih baik? Bila suatu organisasi terobsesi terhadap kualitas, maka berlaku prinsip “good enough is Never good enough”

3. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut. Dengan demikian data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.

4. Komitmen Jangka Panjang

MMT merupakan paradigma baru, maka dari itu dibutuhkan budaya sekolah yang baru pula. Dan untuk membentuk budaya sekolah yang baru itu diperlukan adanya komitmen jangka panjang agar penerapan MMTP dapat berjalan dengan sukses.

5. Kerja Sama Tim (Team Work)

Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional seringkali diciptakan persaingan antar departemen agar daya saingnya terdongkrak, Akan tetapi, persaingan internal itu cenderung hanya menggunakan dan menghabiskan energi yang harusnya dipusatkan pada upaya perbaikan kualitas, yang pada gilirannya untuk meningkatkan daya saing ada lingkungan eksternal. Dalam organisasi yang menerapkan TQM kerja sama tim, kemitraan dan hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga-lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.

6. Perbaikan Sistem Secara Terus Menerus

Setiap produk memanfaatkan proses tertentu dalam suatu sistem, sehingga sistem yang ada perlu diperbaiki secara terus menerus agar mutu dapat meningkat.

7. Pendidikan dan Pelatihan

Sekolah yang menerapkan MMTP, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang mendasar, karena dengan pendidikan dan pelatihan setiap guru dan staf tata usaha akan meningkatkan keterampilan teknisnya, Setiap orang diharapkan dan didorong untuk terus belajar. dalam hal ini berlaku prinsip bahwa belajar merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia, Dengan belajar setiap orang dalam perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian profesionalnya.

8. Kebebasan Yang Terkendali

Kebabasan yang timbul karena keterlibatan pemberdayaan guru dan staf merupakan hasil pengendalian yang terencana, misalnya keterlibatan dan pemberdayaan guru dan staf tata usaha dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan tersebut akan dapat meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat serta dapat memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan.

9. Kesatuan Tujuan

Agar MMT dapat diterapkan dengan baik maka sekolah harus memiliki kesatuan yang jelas. Dengan demikian semua usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama. Meski begitu, dalm kesatuan tujuan tidak berarti harus selalu ada persetujuan antara pihak kepala sekolah dengan guru dan staf tata usaha mengenai upah dan kondisi kerja.

10.  Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Guru dan Staf Tata Usaha

Keterlibatan guru dan staf tata usaha merupakan hal penting dalam memerapkan MMT. Manfaat dari keterlibatan guru dan staf, adalah: Dapat menghasilkan keputusan yang baik dan perbaikan yang lebih efektif karena mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak yang langsung berhubungan dengan kerja, dan meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab atas situasi keputusan dengan melibatkan orang yang harus melaksanakan.[19]

e. Hambatan Penerapan Manajemen Mutu Tepadu

Apabila suatu organisasi menerapkan TQM dengan cara sebagaimana mereka melaksanakan inovasi manajemen lainnya, atau bahkan mereka menganggap TQM sebagai obat ajaib atau alat penyembuh yang cepat, maka usaha tersebut telah gagal sejak awal. TQM merupakan suatu pendekatan baru yang menyeluruh yang membutuhkan perubahan total atas paradigma manajemen tradisional, komitmen jangka panjang, kesatuan tujuan, dan pelatihan-pelatihan khusus.[22]

Tjiptono dan Diana memberikan masalah-masalah yang menyebabkan manajemen mutu terpadu tidak dapat diterapkan, yaitu karena usaha dilakukan setengah hati dan harapan-harapan yang tidak yang realistis. 
Pendapat ini senada yang diungkapkan Salazaar yang mengatakan bahwa kegagalan manajemen mutu terpadu antara lain disebabkan:
  1. Pihak manajemen ingin seketika sukses dengan Manajemen Mutu Terpadu.
  2. “Hanya dengan belajar dan berlatih dengan singkat dianggap pasti akan berhasil menerapkan Manajemen Mutu Terpadu”.[24]
f. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu

Konsep MMT pada dasarnya dalam dunia pendidikan, manfaat penerapan MMT adalah perbaikan, pelayanan, penguragan biaya, dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam system manajemen dan kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Sebagai tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan keahlian, semangat dan rasa percaya diri di kalangan staf pelayanan public, perbaikan hubungan antara pemerintah dan masyarakatnya, peningkatan akuntabilitas dan transparansi pemerintah serrta peningkatan produktivitas dan efisiensi pelayanan publik.

Dalam jurnal Ahmad Darmadji implementasi TQM yang dilakukan di MAN Yogyakarta dilakukan melalui sejumlah tahapan. Tahapan tersebut tidak lepas dari partisipasi aktif dan dinamis dari masyarakat dan stake holder, dan orang tua siswa, siswa, guru, ketenaga pendidikan, dan staff serta institusi yang memiliki kepedulian terhadap madrasah.[28]

Adapun cara pengimplementasian yang dilakukan di MAN Yogyakarta yaitu basis indikator mutu dan kualitas kelembagaan yang tercermin dari visi dan misi sekolah itu. sebagai suatu proses yang meilibatkan pemusatan pada pencapaian kepuasan harapan pelanggan pendidikan, perbaikan terus menerus, pembagian tanggung jawab, dengan para pegawai, dan pengurangan pekerjaan tersisa dan pengerjaan kembali.

Implementasi manajemen mutu terpadu bukanlah suatu pendekatan yang sifatnya langsung jadi atau hasilnya diperoleh dalam waktu sekejap, tetapi membutuhkan suatu proses yang sistematis. Banyak pakar yang mengemukakan pendapatnya mengenai fase-fase atau tahap-tahap implementasi manajemen mutu terpadu.

Dalam jurnal Hennie mengemukakan fase-fase implementasi yaitu menurut Cortada berpendapat ada 5 tahap transformasi yang dilalui oleh suatu perusahaan semenjak pertama memulai manajemen mutu terpadu hingga sukses sebagai perusahaan yang berkualitas unggul, yaitu:
  1. Kesadaran awal: baru ada sedikit pengetahuan mengenai konsep-konsep manajemen mutu terpadu.   
  2. Implementasi sebagian: pengetahuan semakin berkembang.
  3. Aktivitas ekstensif: setiap orang telah memahami konsep manajemen mutu terpadu
  4. Hasil-hasil nyata: integrasi sangat baik,
  5. Terbaik dalam industri: integrasi total.[29] 
George dan Weimerskirch menyatakan ada 6 fase utama dalam implementasi manajemen mutu terpadu, yaitu:
  1. Komitmen manajemen senior terhadap perubahan
  2. Penilaian sistem perusahaan, baik secara internal maupun eksternal
  3. Pelembagaan fokus pada pelanggan
  4. Pelembagaan manajemen mutu terpadu dalam perencanaan strategik, keterlibatan karyawan, manajemen proses, dan sistem pengukuran.
  5. Penyesuaian dan perluasan tujuan manajemen guna memenuhi dan melampaui harapan pelanggan
  6. Perbaikan atau penyempurnaan sistem.

Sementara itu Goetsch dan Davis, memberikan klasifikasi fase implementasi yang lebih rinci dan sistematis. Fase implementasi manajemen mutu terpadu dikelompokkan menjadi tiga fase, yaitu:
  1. Fase persiapan. Fase ini terdiri atas 10 langkah, yaitu: (a) membentuk manajemen mutu terpadu steering committee, (b) membentuk tim, (c) pelatihan manajemen mutu terpadu, (d) menyusun pernyataan visi dan prinsip sebagai pedoman, (e) menyusun tujuan umum, (f) komunikasi dan publikasi, (g) identifikasi kekuatan dan kelemahan, h) identifikasi pendukung dan penolak, (i) memperkirakan sikap karyawan, (j) mengukur kepuasan pelanggan.
  2. Fase Perencanaan: (a) merencanakan pendekatan implementasi, kemudian menggunakan siklus plan, do, check, and adjust, (b) identifikasi proyek, (c) komposisi tim, (d) pelatihan tim.
  3. Fase Pelaksanaan: (a) penggiatan tim, (b) umpan balik kepada steering committee, (c) umpan balik dari pelanggan.

Dalam ajaran total quality management (TQM), lembaga pendidikan (sekolah)  harus menempatkan siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan sebagai “stakeholders” yang terbesar, maka suara siswa harus disertakan dalam setiap pengambilan keputusan strategis organisasi sekolah. Tanpa suasana yang demokratis manajemen tidak mampu menerapkan TQM, yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihak-pihak tertentu yang sering kali mengambil kepentingan yang bersimpangan dengan hakikat pendididikan.

Penerapan TQM berarti adanya kebebasan untuk berpendapat. Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis  siswa dan guru, antara siswa dan kepala sekolah, antara guru dan kepala sekolah, singkatnya adalah kebebasan berpendapat dan keterbukaan antar seluruh warga sekolah. Pentransferan ilmu pengetahuan tidak lagi bersifat on way communication , melainkan two way communication. Proses dua arah ini merupakan bagian dari substansi total quality management (TQM) dalam meningkatkan kualitas pendidikan disekolah.

Sehingga di lingkungan organisasi nonprofit, khususnya pendidikan, penetapan kualitas produk dan kualitas proses untuk mewujudkannya, merupakan bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian total quality management (TQM). Kesulitan ini disebabkan oleh ukuran produktivitasnya bukan sekedar kuantitatif, misalnya hanya jumlah lokal dan gedung sekolah serta laboratorium yang berhasil dibangun,tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut mamfaat dan kemampuan memamfaatkannya.

Demikian juga jumlah lulusan yang dapat diukur secara kuantitatif, sedangkan kualitasnya sulit untukn ditetapkan kualifikasinya. Sehubungan dengan itu dilingkungan organiasasi pendidikan yang bersifat nonprofit, Menurut Hadari Namawi, ukuran produktivitas organiasasi bidang pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut:
  1. Produktivitas internal, berupa hasil yang dapat diukur secara kuantitatif, seperti jumlah atau persentase lulusan sekolah, atau jumlah gedung dan lokal yang dibangun dengan persyaratan yang ditetapkan.
  2. Produktivitas eketernal, berupa hasil yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena bersifat kuantitatif yang hanya dapat diketahui setelah melewati tenggan waktu tertentu yang cukup lama.[30]
Total quality management (TQM) atau manajemen mutu terpadu dalam bidang pendidikan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas pendidikan, daya saing bagi output (lulusan) dengan indikator adanya kompetensi baik intelektual maupun skill serta kompetensi sosial siswa/lulusan yang tinggi. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi TQM didalam organisasi pendidikan (sekolah) perlu dilakukan dengan sebenarnya tidak dengan setengah hati. Dengan memamfaatkan semua entitas kualitas yang ada dalam organisasi, maka pendidikan kita tidak akan jalan ditempat seperti saat ini. Kualitas pendidikan kita berada pada urutan 101 dan masih berada dibawah Vietnam yang notabene negara tersebut dapat dikatakan baru saja merdeka dibandingkan dengan bangsa kita Indonesia.

Implementasi TQM di organisasi pendidikan khususnya negeri memang tidak mudah. Adanya hambatan dalam budaya kerja, untuk kerja dari guru dan karyawan sangat memengaruhi. Tidak perlu dimungkiri bahwa budaya kerja, untuk kerja dan disiplin PNS dinegara kita sangat rendah. Ini sangat memengaruhi efektivitas implementasi TQM.

Implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS) yang telah mengadopsi prinsip-prinsip TQM ternyata tidak serta merta mendongkrak peningkatan kinerja pelaksana sekolah yang implikasinya dapat meningkatkan kompetensi siswa.

Menurut Penulis, yang pertama diperbaiki adalah budaya kerja, unjuk kerja, dan disiplin darin pelaksana sekolah (guru, karyawan, dan kepala sekolah). Semuanya harus dapat memandang siswa sebagai “pelanggan”, yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya demi kepuasan mereka. Pelaksana sekolahb harus selalu bersemangat untuk maju,  bersemangat terus untuk menambah kemampuan dan keterampilannya yang pada akhirnya dapat meningkatkan unjuk kerja mereka di depan siswa. Apabila semua pelaksana sekolah sudah mempunyai buadaya kerja, unjuk kerja dan disiplin yang tinggi, maka implementasi TQM dapat secara optimal nyata berjalan dan akan menjadi organisasi pendidikan (sekolah) akan semakin maju, eksis, memiliki brand image yang semakin tinggi dan pada akhirnya dapat menciptakan kader-kader bangsa berkualitas dan dapat disejajarkan dengan bangsa lain.

2. Kualitas Pendidikan

Mutu pendidikan adalah kualitas atau ukuran baik atau buruk proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui upaya bimbingan pengajaran dan pelatihan. Mutu di bidang pendidikan meliputi mutu input, proses, output, dan outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu jika siap berproses. Proses pendidikan bermutu apabila mampu menciptakan suasana Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM).

Menurut Sudarwan Danim, mutu dapat didefinisikan sebagai derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa”.[32] Sedangkan D.L. Goetsch dan S. Davis, seperti dikutip Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, mendefinisikan mutu sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,manusia,proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.[33]

Sementara itu, jika dilihat dari segi korelasi mutu dengan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Djaujak Ahmad, bahwa mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.[34]

Menurut Oemar Hamalik, pengertian mutu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu segi normatif dan segi deskriptif. Dalam arti normatif, mutu ditentukan berdasarkan pertimbangan (kriteria) intrinsik dan ekstrinsik. Berdasarkan kriteria intrinsik, mutu pendidikan merupakan produk pendidikan yakni manusia yang terdidik, sesuai dengan standard ideal. Berdasarkan kriteria ekstrinsik, pendidikan merupakan instrumen untuk mendidik tenaga kerja yang terlatih. Adapun dalam arti deskriptif, mutu ditentukan berdasarkan keadaan senyatanya, misalnya hasil tes prestasi belajar.[35]
       
Sudarwan Danim memiliki pandangan lain tentang mutu pendidikan, yakni mengacu pada masukan, proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material berupa alat peraga, buku-buku, kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, dan deskripsi kerja. Keempat, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, ketekunan, dan cita-cita.             

Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya sekolah mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu dari peserta didik. Dilihat dari hasil pendidikan, mutu pendidikan dipandang berkualitas jika mampu melahirkan keunggulan akademis dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.[36]

Dengan demikian kualitas jasa pendidikan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas pelayanan yang diperoleh atau diterima secara nyata oleh mereka dengan dengan pelayanan yang sesungguhnya diharapkan. Jika kenyataan lebih dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan bermutu. Sebaliknya, jika kenyataan kurang dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan tidak bermutu. Namun, apabila kenyataan sama dengan harapan, maka kualitas pelayanan disebut memuaskan. Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang diterima mereka.[37] (kutipan jangan terlalu Panjang).

Berdasarkan kajian diatas dapat sementara penulis simpulkan bahwa faktor yang paling berperan dalam  menyebabkan pencapaian  kualitas pendidikan di suatu lembaga pendidikan adalah penggerakkan secara totalitas semua elemen di lembaga tersebut agar berusaha dan berupaya dalam menerapkan manajemen mutu terpadu pendidikan secara baik dan sesuai  dengan kaidah-kaidah yang ada yaitu berfokus pada kepuasan pelangaan baik internal maupun eksternal, apabila pandangan dari pelanggan itu merasakan puas terhadap pelayanan yang dibeerikan maka tidak mungkin kualitas pendidikan akan tercapai yaitu melahirmya SDM yang unggul serta memiliki moral yang baik.

B. Penelitian Yang Relevan

  1. Judul Penelitian “Implementasi manajemen mutu terpadu dalam mengembangkan budaya religius” (studi kasus di SD Brawijaya Smart School Malang oleh Nur Majidah Qurrotaa’yun (UIN Maulana Ibrahim Malang, 2020) yang meneliti tentang implementasi manajemen terpadu dalam mengembangkan budaya yang menyimpulkan bahwasanya di sekolah tersebut sudah diterapkan secara optimal dapat dilihat dari perencanaan, proses maupun hasil yang tercapai dengan indikator yang berfokus pada pelanggan mengakibatkan hasil sentimen dan asumsi positif dari pihak pelanggan yang menjadi fokus dari tujuan manajemen mutu terpadu.

  2. Judul Penelitian “ Implementasi Manajemen Mutu Terpadu” (studi kasus di MA Bahrul Ulum, Kabupaten Tanggamus, Lampung oleh Defi Irnawati (UIN Raden Intan Lampung, 2018) yang meneliti implementasi manajemen mutu terpadu di MA Bahrul Ulum, Kabupaten Tanggamus, Lampung yang menyimpulkan bahwasanya Madrasah Aliyah tersebut sudah melaksanankan indikator keberhasilan dari manajemen mutu terpadu  seperti memberikan pelayanan  umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan  peningkatan kualitas SDM dengan memperhatikan kepentingan masyarakat (pelanggan). Dan masih ada poin indikator yang belum tercapai seperti sarana dan prasarana yang dibangun belum di optimalkan secara baik.

  3. Judul Penelitian “Implementasi manajemen mutu terpadu dalam meningkatkan kompetensi lulusan SMA” (studi kasus SMA Darul ‘Ulum 2 Unggulan BPPT Jombang, Jawa Timur oleh Imam Mutaqin dan Muhammad Zaki (Universitas Pesantren Tinngi Darul Ulum, 2018) yang meneliti implementasi manajemen mutu terpadu dalam meningkatkan kompetensi lulusan SMA di SMA Darul ‘Ulum 2 Unggulan 2 BPPT Jombang menyimpulkan bahwa sekolah tersebut telah menerapkan manajemen mutu terpadu sudah diterapkan dengan baik dari segi SDM, kurikulum dan pembelajaran, dan sarana prasarana dengan indikator keberhasilan  memeperoleh prestasi tingkat nasional dengan mengedapankan memberikan pelayanan yang kuat untuk peningkatan kualitas pendidikannya dan meningkatkan kepuasan siswa dan orang tua sebagai jasa konsumen pendidikan.


 

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, pendekatan ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyelesaikan  diri dengan lebih banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.[38]

B.  Jenis dan Sumber Data  

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat yang sedang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang ”.[39]

Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder, sumber data primer adalah sumber data yang dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan kepala sekolah, gruru, orang tua wali murid, serta para siswa di SMP Negeri 21 Merangin.

Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen atau bahan tertulis atau bahan perpustakaan, yakni buku-buku, artikel, jurnal ilmiah, dan koran yang membahas masalah-masalah yang relevan dengan penelitian ini, seperti sejarah madrasah, visi misi, struktur organisasi, daftar guru dan tenaga kependidikan, dll.

C. Setting dan Subjek Penelitian

Setting dalam penelitian adalah dengan cara informan dalam penelitian ini sebagian didatangi dan diwawancarai, dan sebagian lain diamati dan diobservasi secara langsung. Hal ini dilakukan untuk penyesuaian informasi atau data yang diperoleh melalui wawancara dengan data yang diperoleh melalui observasi.

Penemuan subjek penelitian dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu”[40]. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, dan para siswa. Orang-orang ini nantinya akan menjadi informan bagi peneliti karena diasumsikan mereka paling mengetahui tentang informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.

D. Metode Pengumpulan Data
 
a. Observasi
 
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena fenomena yang diselidiki”.[41] Sedangkanobservasi partisipan atau pengamatan terlibat menurut Parsudi Suparlan sebagaimana dikutip Hamid Patilima merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gejala yang ada, sesuai maknanya dengan yang diberikan  atau dipahami oleh warga yang ditelitinya.      

b. Wawancara
 
Menurut Michael Quinn Patton sebagaiman dikutip oleh Rulam Ahmadi cara yang utama dilakukan oleh ahli peneliti kualitatif untuk memahami persepsi, perasaan dan pengetahuan orang-orang adalah wawancara mendalam dan intensif. Yang dimaksud dengan wawancara mendalam, mendetail atau intensif adalah upaya menemukan pengalaman-pengalaman informan dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Oleh karena itu, dalam melaksanakan wawancara untuk mencari data digunakan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban berupa informasi. [42]

c. Dokumentasi 
 
Penggunaan teknik dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data yang diperoleh dari teknik observasi partisipan dan wawancara mendalam. Dokumen adalah catatan kejadian yang sudah lampau yang dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, dan karya bentuk. Dokumen menurut Pohan sebagaimana dikutip Andi Prastowo juga bisa berbentuk arsip-arsip, akta, ijazah, rapor, peraturan perundang-undangan, buku harian, surat-surat pribadi, catatan biografi, dan lain-lain yang memiliki keterkaitan dengan masalah yang diteliti.[43]

E. Analisis Data
 
Analisis data dalam penelitian kualitatif menurut James Spradley terdiri dari tiga empat kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: Domain, Taksonomi, Komponensial, dan Tema Budaya”.[44]
 
1)  Domain

 
Analisis Domain dilakukan untuk memperoleh gamabaran umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau objek penelitian.[45] Data diperoleh dari grand tour dan minitour questions. Hasil nya adalah gambaran umum untuk tentang objek yang diteliti, yang sebelumya belum pernah diketahui. Dalam analisis ini informasi yang diperoleh belum mendalam, masih dipermukaan, namun sudah mendapatkan domain-domain atau kategori situasi sosial yang diteliti.
 
2) Taksonomi
 
Analisis taksonomi adalah kelanjutan dari analisis domain. Domain-domain yang dipilih oleh peneliti, perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data dilapangan. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan, wawancara mendalam, dan dokumentasi sehingga data terkumpul menjadi banyak. Dengan demikian domain-domain yang telah ditetapkan menjadi cover term oleh peneliti dapat diurai secara lebih rinci dan mendalam.[46]
 
3) Komponensial
 
Pada analisis komponensial yang dicari untuk diorganisasikan adalah perbedaan dalam domain atau kesenjangan yang kontras dalam doamain. Data ini dicari melalui observasi, wawancara lanjutan, atau dokumentasi terseleksi. Dengan tehknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi tersebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan.



2 comments for "IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN "

  1. Buk.. 🙏
    Apakah format penulisan tugas metodologi penelitian semester V kemarin bisa mengacu pada karya tulis ini?

    ReplyDelete